Sosial Budaya

Gerai Donor Darah Kini Hadir Di Mal Metropolitan Bekasi

Posted on Updated on

Bagi rekan-rekan sekalian, khususnya yang tinggal di area Bekasi, yang telah secara rutin mendonorkan darahnya, baik di PMI Bekasi ataupun di setiap kegiatan donor darah bersama yang digelar oleh PMI Bekasi bekerja sama dengan instansi atau lembaga masyarakat, kini sudah tidak perlu repot atau pusing lagi.

Mengapa demikian? Pasalnya, Palang Merah Indonesia (PMI) bekerja sama dengan PT Metropolitan Land melalui Yayasan Metropolitan Peduli, kini telah membuka gerai donor darah di Mal Metropolitan. Pembukaan gerai tersebut dilakukan secara seremonial yang ditandai dengan peresmian penggunaannya oleh Ketua Umum PMI Jusuf Kalla, pada 7 Oktober 2010 lalu, yang bertempat di Lantai 3 Mal Metropolitan Bekasi, dan turut dihadiri oleh Wakil Walikota Bekasi Rahmat Effendi, dan Direktur Utama PT Metropolitan Land Ir Nanda Widya.

Dengan dibukanya gerai tersebut, maka diharapkan masyarakat tidak lagi bingung dan malah menjadi mudah untuk mendonorkan darahnya, karena adanya fasilitas tersebut. Terlebih jika hal tersebut tersedia di mal, karena biar bagaimanapun, di era modern seperti sekarang, mal telah mengubah life style seseorang atau keluarga dalam hal berekreasi, yang pada dasa warsa sebelumnya dilakukan secara konvensional.

“Menyumbangkan darah, diharapkan dapat menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern,” ujar Ketua Umum PMI yang juga mantan Wapres RI, Jusuf Kalla, saat memberikan sambutan dalam acara tersebut.

Dengan meningkatnya jumlah partisipasi masyarakat untuk melakukan donor darah, tentu akan membuka kesempatan terjadinya peningkatan jumlah kantong darah yang terkumpul oleh PMI.

Sebagai informasi saja, untuk Jakarta dan sekitarnya, tingkat kebutuhan darah yang diperlukan mencapai 1.000 kantong setiap hari. Sedangkan secara nasional, kebutuhan darah mencapai jumlah 4,8 juta kantong darah setiap tahunnya.

Menurut Pak JK, idealnya stok kantong darah yang diperlukan secara nasional adalah 2 persen dari jumlah penduduk, yaitu sekitar 4,8 juta kantong darah. Sementara saat ini, PMI baru dapat mengumpulkan 1,9 juta kantong darah. Sehingga terdapat selisih angka yang sangat jauh, yakni sekitar 3 juta kantong lagi.

Gerai donor darah yang ada di Mal Metropolitan Bekasi merupakan gerai ketujuh yang dibuka setelah sebelumnya dibuka di Senayan City dan Tanah Abang Jakarta, Mal Tunjungan Plaza Surabaya, Mal Mari Plaza dan Universitas Hasanuddin Makassar.

Potensi keterlibatan masyarakat dalam mendonorkan darahnya di gerai-gerai donor darah yang ada di mal, sangatlah besar. Dikatakan Direktur Utama PT Metropolitan Land Ir Nanda Widya, setiap harinya pengunjung Mal Metropolitan tidak kurang dari 20 ribu orang, dan menjadi lebih banyak lagi pada akhir pekan.

Dikatakannya pula, dengan adanya gerai donor darah di mal, maka aktifitas ke mal bukan hanya sekedar untuk kegiatan konsumtif saja, tetapi dapat menjadi aktifitas sosial, dengan berdonor darah, dan secara tidak langsung ikut dalam penyelamatan jiwa seseorang.

Gerai tersebut merupakan bentuk dari Coorporate Sosial Responsibility (CSR) yang dilakukan oleh PT Metropolitan Land, yang tidak lain adalah pengembang properti yang telah mengembangkan proyek perumahan dan komersial di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Mal Metropolitan merupakan salah satu dari proyek komersial tersebut, selain Hotel Horison Bekasi. Beberapa proyek perumahan yang dikembangkan oleh PT Metland diantaranya, Metland Menteng di Cakung Jakarta Timur, Metland Puri di Cipondoh Tangerang, Metland Tambun di Bekasi, Metland Transyogi dan Metland Cileungsi di Timur Cibubur.

Tentu ini merupakan sebuah terobosan baru, dan mendobrak kebiasaan umum yang selama ini berlaku. Tidak hanya gerai handphone, gerai pulsa, gerai sepatu, ataupun gerai pakaian, yang selama ini memang sudah eksis di mal, tapi juga gerai donor darahpun ada di mal. Semoga saja, langkah ini merupakan sebuah terobosan yang efisien dan efektif dilakukan, demi untuk meningkatkan jumlah kantong darah dalam upayanya untuk ikut menyelamatkan jiwa manusia.

DONOR SEKARANG, SETETES DARAH ANDA, NYAWA MEREKA.[cr]

Keong Racun Yang Fenomenal

Posted on Updated on

Bukanlah Keong Racun yang biasa dijumpai di pinggiran got atau ditempat-tempat yang lembab. Ini adalah sebuah kisah Keong Racun yang sedang memulai perjalanan fenomenalnya.

Berbekal narsis, iseng namun kreatif yang merekam aksinya lalu di-upload ke Youtube, dua orang mahasiswi jurusan Hubungan Internasional salah satu kampus swasta di Kota Bandung, tepatnya di Universitas Pasundan (Unpas) angkatan 2008, Sinta (Sinta Nuriansyah) dan Jojo (Jovita Adityasari), telah melambungkan lagu dangdut koplo khas Pantura berjudul Keong Racun, yang membuatnya lantas dijuluki pe-lipsync (lip singer).

“Awalnya sih hanya iseng. Saya dengan Shinta kan sudah berteman sejak dari SMA. Kemudian sekitar satu bulan lalu, saya iseng merekam adegan nyanyi berdua denga Shinta di rumah saya di Cimahi. Suaranya sih suara penyanyi aslinya. Kita hanya lipsync saja,” kata Jojo saat ditemui wartawan di Kampus Unpas Jalan Lengkong Besar (29/7).

Betapa tidak, genre lagu yang sebelumnya hanya dikenal oleh para penggemar musik dangdut koplo khas Pantura, saat ini berkat duet maut Sinta dan Jojo, lagu tersebut tidak hanya diputar di radio-radio saja, tetapi juga menjadi konsumsi pemirsa infotainment serta menjadi headline di beberapa media cetak maupun elektronik.

Kabarnya, hampir di tiap-tiap lampu merah yang ada di Kota Bandung, para musisi jalanan secara bergantian mendendangkan lagu Keong Racun. Begitupun halnya dengan pagelaran hajatan, Keong Racun menjadi satu-satunya lagu yang berulang kali minta dinyanyikan (request-red).

Bahkan, Keong Racun menjadi produk “karya anak negeri” yang prestasinya hampir menyamai kepopularitasan Ariel Peterporn dengan menjadi pembahasan utama di trending topic-nya twitter. Viewer Keong Racun berdurasi 5:14 menit di Youtube hingga saat ini (3/8) telah mencapai 2.204.265 pemirsa dari seluruh penjuru dunia.

Di satu sisi, sang pencipta lagu Keong Racun, Subur Tahroni atau Buy Akur, maupun penyanyi aslinya, Lissa, seharusnya patut bersyukur, karena berkat Sinta dan Jojo-lah Keong Racun melejit bak pesawat ulang-alik, menjadi perhatian sekaligus menjadi familiar tidak saja masyarakat Indonesia, tapi juga masyarakat dunia.

Bahkan kabar terakhir, Keong Racun telah dibeli secara ekslusif hak ciptanya oleh Charlie ST 12, yang berniat akan mengaransemen ulang lagu tersebut menjadi lebih modern. Duet penyanyi Putri Penelope (Putri Lana dan Cinta Penelope) menjadi yang beruntung karena telah disiapkan Charlie untuk membawakan lagu yag telah menjadi hits tersebut.

Buy Akur tentunya akan senang riang gembira mendapat kompensasi atas karyanya. Lalu, dampak apa yang dihasilkan Sinta dan Jojo secara langsung? Paling tidak, orang seantero dunia mengenal siapa mereka berdua. Dalam sekejap, paling tidak mereka telah menjadi seleb dunia maya. Dan bukan dunia entertainment namanya jika tidak memanfaatkan setiap kesempatan yang ada alias aji mumpung. Sinta dan Jojo bahkan sudah ditawari untuk terjun ke dalam dunia entertainment.

Buy Akur sudah, Sinta dan Jojo sudah. Lalu, bagaimana dengan Lissa, penyanyi asli Keong Racun. Kabar simpang siur menyebutkan, jika Lissa akan diakomodir dalam manajemen Charlie ST 12, sementara kabar lainnya mengatakan, jika Charlie tidak ada urusan dengan Lissa, sang pelantun tembang hits tersebut.

Kita tunggu saja kabar fenomenal Keong Racun selanjutnya. Apakah Keong Racun itu akan mengeluarkan kisah-kisah manisnya atau justru sebaliknya, sesuai dengan namanya, ya Keong Racun yang beracun. Kita tunggu saja! [cr]

Video Porno Mirip Ariel, Luna Maya Dan Cut Tari, Korban Eksploitasi Budaya Narsisme Akibat Kemajuan Teknologi

Posted on Updated on

Budaya narsisme yang melanda peradaban manusia belakangan ini, baik yang terdapat dalam kelompok usia ABG, remaja maupun dewasa, ditengarai tidak lepas dari pengaruh kemajuan teknologi. Handphone (HP) dengan segala fiturnya, salah satunya melalui camera built-in, menghadirkan sebuah bukti kian menjamurnya budaya narsisme di tengah-tengah masyarakat dewasa ini.

Segala aktifitas, baik secara personal maupun yang melibatkan kelompok, tentulah sebuah momen yang sangat disayangkan untuk dilalui begitu saja, terlebih dengan kualitas kamera HP yang kian baik saja dari hari ke hari, dan dengan harga yang kian terjangkau pula.

Bak pisau dapur. Kamera HP saat ini, dapat dianalogikan seperti layaknya pisau dapur. Ditangan siapa pisau dapur itu digunakan, maka akan menentukan cerita berikutnya. Sederhana saja, jika pisau dapur tersebut digunakan oleh seorang juru masak (koki), maka akan hadir sebuah santapan lezat di meja makan. Namun, jika pisau dapur tersebut digunakan oleh seorang preman, maka akan hadir sebuah cerita yang bertutur tentang kisah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang preman terhadap seorang korban yang tidak mau menyerahkan harta bendanya.

Jika menilik kasus video porno yang menimpa artis yang diduga mirip Ariel, Luna Maya dan Cut Tari, yang menurut analisa para pakar direkam menggunakan kamera HP, jelas terlihat bahwa budaya narsisme, juga dibawa-bawa ke dalam urusan ranjang melalui porno aksinya.

Menurut seorang psikolog, dua insan yang sedang terlibat dalam asmara ranjang, kecenderungan pemikirannya akan dikalahkan oleh nafsunya. Jika boleh disamakan, akan seperti seorang preman yang sedang dalam pengaruh alkohol.

Penggunaan kamera HP yang tidak bijak dan tanpa dipikir panjang, membuat pemiliknya akan terjebak dalam ekploitasi budaya narsisme, terlebih manakala sedang melakukan urusan yang berkaitan dengan nafsu ranjangnya. Seperti pepatah, bangkai yang ditutup rapat, akan tercium pula baunya. Begitupun dengan video porno mirip Ariel dan Luna Maya maupun mirip Ariel dan Cut Tari, yang beredar di jagad maya, akhirnya bagaikan bangkai yang sudah tidak ditutup rapat-rapat lagi.

Sebuah file yang meski dibungkus rapih dalam sebuah benda atau barangpun, di jaman yang serba canggih seperti sekarang, tetaplah memiliki kerentanan yang cukup tinggi. Apalagi jika file tersebut berisi porno aksi pribadi, bagaikan seseorang yang sedang berjalan pada sebilah bambu melintasi sungai, mampu menyeberang hingga ke ujung titian atau jatuh ke dasar sungai. Dalam kasus tersebut diatas, tentunya pemiliknya seperti sedang bermain-main dengan harga diri, karir dan masa depan.

Meski juga dalam UU tidak disebutkan, jika untuk konsumsi pribadi tidak akan dijerat hukum, namun siapa yang mengira jika konsumsi pribadi tersebut, akhirnya dapat tersebar dan kemudian dinikmati oleh publik. Maka, hukumpun akan memainkan peranannya.

Akhirnya, jika dapat disimpulkan, kemajuan teknologi saat ini jelaslah melahirkan sebuah budaya baru, yaitu budaya narsisme. Pertanyaannya, apakah saat ini kita sedang menjadi budak narsisme, yang membutakan mata kita dalam melakukan aksis narsisme tersebut, yang mungkin saja justru malah dapat menjadi korban dari narsisme kita sendiri. Hanya Anda dan Tuhan Anda yang tahu.(cr)

Amprokan Blogger: Sepenggal Cerita Dari Anjangsana Berlanjut Ke Sarasehan

Posted on Updated on

Sebagai salah seorang (yang sedang berupaya memiliki identitas baru sebagai, “BLOGGER”) yang turut hadir dalam Amprokan Blogger rasanya saya perlu menceritakan apa yang pernah saya alami dan saya rasakan saat mengikuti acara tersebut.

Dalam salah satu bunyi petikan Siaran Pers Komunitas Blogger Bekasi (be-Blog) disebutkan, “Menurut Ketua Panitia acara Amprokan Blogger 2010, Aris Heru Utomo, “Amprokan  Blogger, berasal dari kata dasar “amprok” (yang artinya bertemu), merupakan pertemuan yang memang diselenggarakan untuk mengakrabkan hubungan antar sesama blogger Bekasi ataupun dengan blogger dari komunitas lain, mengenalkan keunikan dan potensi Bekasi serta mensosialisasikan aktivitas ngeblog ke masyarakat”.

Sebuah arti yang sebenarnya memang tidak jauh berbeda jika menilik Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dimana kata “amprok”, menurut kamus tersebut mengandung arti, “bersua secara tiba-tiba ditengah jalan atau ditempat lain”.

Komunitas Blogger Bekasi (be-Blog), tanggal 6-7 Maret 2010 lalu, mengundang para blogger dari seluruh penjuru Indonesia untuk melakukan amprokan di Bekasi. Kegiatan yang digagas oleh Komunitas Blogger Bekasi dan didukung oleh Pemkot Bekasi serta beberapa sponsor itu berhasil menghadirkan blogger-blogger dari berbagai daerah.

Ya! Amprokan Blogger adalah tema acara itu, sebuah acara yang dihelat selain sebagai wadah kopdar antar blogger antar komunitas, juga sehubungan dengan Hari Ulang Tahun ke-13 Kota Bekasi, yang jatuh pada tanggal 10 Maret 2010.

Acara yang juga bertujuan untuk lebih memperkenalkan Kota Bekasi tersebut diikuti dengan antusias oleh blogger Bekasi selaku tuan rumah, serta bloger-blogger lainnya yang berasal dari luar daerah, seperti Ponorogo, Malang, Madura, Surabaya, Mojokerto, Solo, Pekanbaru, Karawang, Jakarta, Bandung, Bogor, Depok. Diharapkan, dengan kehadiran para blogger dari luar daerah, acara tersebut dapat dijadikan sebagai ajang promosi tentang potensi yang dimiliki Kota Bekasi.

Pelaksanaan Amprokan Blogger itu sendiri dibagi menjadi dua hari, dengan berbagai agenda yang telah dijadwalkan, salah satu diantaranya, para blogger diajak beranjangsana. Mungkin ada yang bertanya, ”beranjangsana” itu apa? Beranjangsana berasal dari kata dasar “Anjangsana”. Anjangsana  menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dapat diartikan sebagai, (1) kunjungan untuk melepaskan rasa rindu; (2) kunjungan silaturahmi (ke rumah tetangga, saudara, kawan lama, sahabat. Sementara beranjangsana, menurut KBBI, sama artinya dengan, (1) berkunjung untuk melepaskan rasa rindu; (2) berkunjung untuk bersilaturahmi.

Asrama Haji - Blogger Naik Bus (foto:Harz)

Dengan mengambil starting point di Asrama Haji Bekasi, panitia telah menyediakan sebanyak 5 bus AC nan sejuk yang diperuntukkan bagi para blogger untuk beranjangsana. Tepat, pukul 08.30 WIB, melalui pengawalan voorijdeers (patroli pengawalan kepolisian) 4 bus yang telah terisi blogger itupun berangkat, sementara 1 bus sisanya stand by menunggu blogger yang masih belum datang hingga jam keberangkatan.

Tugu Bina Bangsa (Foto:Harz)

Anjangsana sebagai agenda pada hari pertama, dilakukan ke beberapa tempat, yang pertama dilakukan adalah anjangsana ke Tugu Bina Bangsa, yaitu sebuah tugu atau monumen perjuangan para pemuda Bekasi terhadap penjajahan kala itu, hingga kemudian tercetus sebuah puisi Karawang Bekasi karya Chairil Anwar. Tugu Bina Bangsa bertempat di Bumi Perkemahan Bina Bangsa Kompleks Gelanggang Olah Raga Kota Bekasi, yang letaknya persis di seberang Kantor Pemerintahan Kota Bekasi, tepatnya di Jalan Jenderal Ahmad Yani. Perjalanan yang tidak lebih dari lima menit itupun dilakukan dari lokasi starting point di Asrama Haji Bekasi Jalan Kemakmuran Kelurahan Margajaya Kecamatan Bekasi Selatan. Di lokasi yang merupakan hutan kota ini, para blogger dengan tingkat narsisnya masing-masing berekspresi bak fotomodel yang sedang foto session.

UKM Boneka Sumur Batu (Foto:Harz)

Agenda berikutnya, adalah anjangsana ke salah satu UKM unggulan di Kota Bekasi, yaitu UKM Boneka HIKPIB (Himpunan Industri Kecil Pengrajin Boneka) yang bertempat di Kelurahan Sumur Batu Kecamatan Bantargebang. Perjalananpun dilakukan menuju lokasi. Tak berapa lama berselang, Wakil Walikota Bekasi Bapak Rahmat Effendi (Bang Pepen) menyambut kedatangan para blogger. Dengan antusiasnya, para blogger melihat industri kerajinan boneka saat diberikan kesempatan untuk melihat sejauh mana proses produksi dilakukan.

Wakil Walikota Bekasi di UKM Boneka (Foto:Harz)

Dari lokasi tersebut, kemudian rombongan blogger diajak untuk melihat secara langsung lokasi TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) Sumur Batu. Wakil Walikota Bekasi, Rahmat Effendi telah hadir lebih dulu di lokasi dan telah menanti rombongan blogger yang baru akan bergeser lokasi dari lokasi sebelumnya di industri boneka yang berjarak tidak lebih dari 1 kilometer. Sebagai informasi, di Kecamatan Bantargebang terdapat 2 lokasi TPST, yaitu TPST Sumur Batu (Kelurahan Sumur Batu) dikelola langsung Pemkot Bekasi, sedangkan yang satunya lagi TPST Bantargebang (Kelurahan Bantargebang) dikelola oleh Pemprov DKI Jakarta.

Rumah Pemulung (Foto:Harz)

Di lokasi TPST, bersebelahan dengan gunungan sampah, para blogger diterima oleh Wakil Walikota Bekasi Rahmat Effendi beserta jajaran Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bekasi yang dikomandoi oleh Ir Duddy Setyabudhi selaku kepala badan. Tak berapa lama, berhubung wakil walikota ada agenda berikutnya, maka selanjutnya para blogger dipimpin langsung oleh kepala BPLH meninjau gunungan sampah berikut industri pengolahan sampah menjadi sesuatu yang jauh lebih bermanfaat.

Bekerja sama dengan PT Gikoko Kogyo Indonesia, Pemkot Bekasi menerapkan Clean Development Mechanism (CDM), yang menurut rilisnya, adalah bertujuan untuk memusnahkan gas methan di tempat tersebut yang memiliki dampak perubahan sel sampah dari sistem terbuka menjadi sistem terkontrol  dengan teknik penutupan yang disebut “entombment cell “ dengan geomembran. Dengan begitu, selain menghalangi masuknya air hujan, yang akan mereduksi level air lindi dalam sel, geomembran ini menghalangi pelepasan emisi gas metana ke udara, sehingga penangkapan gas metana dapat dilakukan lebih optimal lagi.

Gas metana yang telah tertangkap disalurkan melalui sebuah pipa utama menuju tabung pembakaran (burning chamber) lalu dimusnahkan. Sebagian dari gas tersebut digunakan untuk pembangkit listrik yang nantinya digunakan untuk kebutuhan sistem instalasi itu sendiri, dimana keseluruhan prosesnya di monitor didalam site dan juga diluar site dengan jarak jauh menggunakan sebuah sistem kontrol distribusi (DCS/Distributed Control System). Sistem ini akan merekam jumlah gas yang telah dimusnahkan yang nantinya akan disertifikasi sebagai Carbon Credits.

Usai mendengarkan penjelasan yang cukup detail dari Kepala BPLH, rombongan blogger melanjutkan anjangsananya ke kawasan industri Jababeka. Di kawasan industri ini, para blogger melakukan ishoma di Kampus President University, yang kemudian dilanjutkan dengan sidak ke Botanical Garden.

Perjalanan panjang nan melelahkan selama satu harian para blogger belum berhenti sampai disitu, pasalnya, seusai dari kawasan industri Jababeka, para blogger mau tidak mau, suka tidak suka, semuanya memasrahkan diri mengikuti sarasehan bersama Walikota Bekasi Bapak Mochtar Mohamad di rumah dinasnya.

Sarasehan di Rumah Dinas Walikota (Foto:Harz)

Di sebuah taman yang tidak terlalu luas, tetapi juga tidak terlalu sempit namun cukup nyaman itu, para blogger dijamu oleh Walikota Bekasi Mochtar Mohamad (M2). Iringan musik para pemenang festival band dalam rangka HUT Kota Bekasi ke-13 menemani para blogger yang sedang antri makan maupun yang sedang melahap makan malam. Sambutan demi sambutan bermunculan diatas panggung, dimulai oleh Aris Heru Utomo selaku Ketua Panitia Penyelenggara Amprokan Blogger, dilanjutkan oleh Walikota Bekasi Mochtar Mohamad selaku tuan rumah dan terakhir, Enda Nasution.

Bintang tamu yang turut hadir memeriahkan acara malam itu, Jelly Tobing dengan M2 Band-nya, Iyeth Bustami yang sempat berduet dengan Edi Rosyadi, lalu Bapak M2 sang tuan rumahpun tak luput untuk ikut menyumbangkan beberapa lagu yang pernah menjadi hits di blantika musik Indonesia, dan terakhir Bapak Tjandra Utama selaku Sekretaris Daerah Kota Bekasi turut pula menyumbangkan lagu.

Sebagai acara puncak, digelar Midnight Talkshow yang menghadirkan Risa Amrikasari dan Jane Shalimar, dengan Master Ceremony Eko SHP, yang membuat suasana menjadi lebih hidup meski lelah menyelimuti tubuh dan ngantuk menggelayuti mata.

Terakhir, para blogger mendapat kesempatan untuk berfoto bersama dengan Walikota Bekasi, sebagai kenang-kenangan untuk bertemu kembali di lain kesempatan, termasuk bersama dengan Kepala Bagian Telematika Sekretariat Daerah Kota Bekasi Ibu Nellyana Koesman, SH, MSi, yang mendapat julukan baru sebagai “Bunda Blogger”. Demikian sepenggal cerita Amprokan Blogger dari bumi Kota Patriot Kota Bekasi. Saya mengabarkan dari rumah dinas Bapak Walikota Bekasi.[cr]

SDN Menteng 01 Jakarta, Pelabuhan Terakhir Patung Obama

Posted on

Patung Obama MentengDua bulan berselang, bak Pahlawan Nasional atau mungkin Pahlawan Tanah Betawi, Patung Obama Kecil saat masih berusia 10 tahun, setinggi 110 cm yang terbuat dari perunggu dan berbobot sekitar 30 kg, berdiri tegak di Taman Menteng Jakarta Pusat. Patung tersebut sempat diresmikan oleh Wali Kota Jakarta Pusat Slyviana Murni pada 10 Desember 2009 lalu.

Patung Obama kecil yang konon kabarnya menelan biaya Rp 100 juta tersebut, dibangun atas ijin Dinas Pertamanan DKI Jakarta, yang merupakan hasil prakarsa teman Obama kecil yang tergabung dalam Friends of Obama diantaranya Ron Muller dan Dalton Tanonaka. Patung setinggi total 2 meter tersebut dirancang oleh Leo Angelo dan dibuat oleh pematung Edi Chaniago.

Patung Obama di MentengPatung tersebut merupakan representasi keberadaan sosok Barrack Obama, Presiden ke-44 AS, yang pernah tinggal di Indonesia antara tahun 1967-1971 bersama ibunya Ann Dunham dan ayah tirinya Lolo Soetoro. Namun sejak awal kemunculannya justru menimbulkan perdebatan di sejumlah kalangan. Perdebatan yang muncul adalah seputar apresiasi sebagai apakah patung Obama kecil tersebut berdiri?

Adalah Heru Nugoroho yang memprotes kehadiran patung tersebut di lokasi yang semestinya hanya layak untuk menempatkan patung tokoh nasional atau paling tidak tokoh lokal betawi, macam si Pitung, Bang Gobang, si Jiun, ataupun Benyamin Suaeb yang sangat kental dalam merepresentasikan dirinya sebagai sosok orang Betawi, termasuk dalam karya terakhirnya dalam Si Doel Anak Sekolahan.

Peta MentengProtes yang akhirnya diamini oleh para pengambil kebijakan, termasuk Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, yang kemudian justru mengakomodir pemindahan lokasi patung tersebut ke tempat yang memang layak untuk ditempatkan, yaitu ke SDN Menteng 01 Jalan Besuki Menteng Jakarta Pusat.

Di SDN Menteng 01 Jakarta itulah Barrack Obama kecil pernah bersekolah bersama teman-teman sebayanya dulu. Keunikan bangunan sekolah berarsitektur khas bangunan bergaya Belanda tersebut tetap dijaga kelestarian bentuknya hingga saat ini. Dan bahkan, oleh Pemerintah Propinsi DKI Jakarta, bangunan tersebut dimasukkan ke dalam salah satu Cagar Budaya.

Selain sebagai sejarah dari sisi bangunannya yang merupakan salah satu bangunan peninggalan Belanda, dari situ pulalah terlahir seorang pemimpin dunia yang saat ini masih aktif, dan itu ada pada diri Barrack Hussein Obama.

SDN Menteng 01 Jakarta PusatJejak Obama kecil yang kala itu menggunakan nama Barry Soetoro masih membekas dan begitu melekat di hati para guru-gurunya maupun teman-temannya dulu hingga saat ini. Konon, hal itulah salah satu yang mendasari kedatangan Obama ke Indonesia dalam kunjungan kerjanya maupun perjalanan napak tilasnya, yang dijadwalkan akan datang pada bulan Mei besok, khususnya ke SDN 01 Menteng Jakarta, tempat dimana dia pernah menimba ilmu dan merasakan sistem pendidikan di Indonesia pada saat itu.

Demi untuk melekatkan fakta historis tersebut, yang tentunya masih membekas jejak-jejaknya, baik antara Obama maupun teman-teman dan lingkungan kecilnya dulu, maka Patung Obama kecil di relokasi ke SDN 01 Menteng Jakarta sebagai pelabuhan terakhirnya. Memang, Obama tidak memberikan apa-apa bagi bangsa ini, sehingga memang tidak sepatutnya, patungnya ataupun representasi dirinya berada di taman-taman maupun lokasi-lokasi strategis yang memang sudah sepantasnya hanya untuk orang-orang atau tokoh-tokoh yang sudah memberikan jasanya bagi bangsa ini.(cr)

Arogansi Provost Mengancam Rakyat Kecil

Posted on Updated on

Empat hari lalu, Senin (15/02/2010) ketika saya akan berangkat ke kantor, orang tua saya memberikan secarik kertas yang berbunyi:

“PAK BURUNG INI

TOLONG AMANKAN

KARENA

MENGGANGGU

KEKHUSUSAN IBADAH

KALAU HILANG

JANGAN SALAHKAN

KAMI,

Ttd

Provost”

secarik kertas

“Apa maksud bunyi secarik kertas tersebut? Ancaman kah? Hmmhhh…Ada-ada saja!”, gumam saya sambil mengelus-ngelus dada.

Pasti Anda akan bertanya, ada masalah apakah gerangan, kok tiba-tiba seekor burung bisa dipersalahkan dengan alasan mengganggu kekhususan ibadah.

Jadi begini, kami sekeluarga, ya orang tua saya, kebetulan memelihara seekor burung kakak tua berwarna putih, yang disangkarkan dalam sebuah sangkar berwarna hijau berbahan batu pahat, dimana  sangkar tersebut biasanya banyak dijumpai dan dijual di pinggir-pinggir jalan.

Kami sekeluarga hafal betul, si kakak tua ini hanya akan berteriak-teriak layaknya burung-burung lainnya, “kkuueeeekkkk…kkuueeeekkkk”, begitu biasanya dia berteriak seraya melenguh panjang, kalau dirinya sedang merasa lapar saja (duh lapar, kayak orang saja yah?). Yah seperti itu deh pokoknya. Jadi di pandangan kami, si kakak tua ini termasuk burung yang pasif dan pendiam atau malah pemalu barangkali. Saking pasifnya, jagung yang biasa menjadi santapannya, rela dimakan oleh tikus-tikus nakal yang merebut jatah orang ehh burung maksudnya.

Kandangnya atau sangkarnya, menurut saya sih termasuk berukuran cukup besar. Dapat kami pastikan, kami sekeluarga tidak akan sanggup mengangkatnya, meskipun sudah sekeluarga lho yah! “Lho kok sudah sekeluarga masih gak mampu juga?”,  ketus Anda. “Piye toh, lha wong kami sekeluarga cuma bertiga, saya, bapak dan ibu”, jawab saya tak kalah ketus. Ya itu tadi, kami tidak akan sanggup mengangkatnya, karena memang bobotnya yang luar biasa berat.

“Lha terus inti masalahnya apa!?”, tanya Anda semakin sewot. Makin penasaran yah, hihihi.

musholla tempat ibadahJadi begini, duh jadi begini lagi deh nih. Oke…oke, kali ini serius. Nah si burung kakak tua tadi itu, sangkarnya memang letaknya tidak jauh dari Musholla Al-Amir, sebuah musholla yang berada di dalam lingkungan Kodim 0507 Bekasi. Secara kebetulan, tanah berikut bangunan yang dimiliki orang tua saya bersebelahan dengan musholla tersebut.

kandang burungEntah mengapa dan ada angin apa, tiba-tiba burung tersebut dipermasalahkan oleh Bapak Provost (Provost adalah petugas piket jaga pada sebuah lingkungan instansi militer atau pada wilayah-wilayah  yang diamankan) yang menurut kami adalah Provost dari Kodim 0507 Bekasi.  Alasan yang dikemukakannya, seperti bunyi dalam secarik kertas tersebut adalah burung kami dituduh (duh…kayak orang lagi aja nih) mengganggu kekhususan ibadah Bapak Provost itu barangkali. Padahal, burung berikut sangkarnya tersebut, sudah ada di posisi itu bukan baru hitungan satu atau dua tahun saja, apalagi baru hitungan bulan, lalu mengapa tidak dari dulu saja melakukan protes kepada kami sekeluarga. Terlebih sangkar tersebut jelas-jelas berada di dalam area atau tanah pekarangan orang tua saya, sehingga secara bodohnya (alias masa bodoh) kami berhak melakukan apa pun yang kami mau terhadap tanah atau pekarangan kami, meskipun sebenarnya kami juga tidak masa bodoh.

Ya tentunya kami sebagai rakyat kecil sangat miris dan prihatin atas bunyi secarik kertas tersebut yang sepertinya memang telah dipersiapkan sebelumnya, terlihat dari hasilnya yang merupakan hasil cetak komputer.

burung kakak tuaYang membuat kami heran, burung tersebut jarang sekali berceloteh kecuali karena lapar. Namun celotehannya pun juga tidak atau sangat jauh dari kategori bising atau yang berdampak terhadap polusi suara. Pun bahkan, polusi udara juga tidak, karena ya memang cuma ada seekor burung saja. Kecuali, jika kami berternak ayam atau bebek yang jumlahnya puluhan atau bahkan ratusan. Saya jamin, jika begitu adanya pasti akan menimbulkan polusi suara (karena cuap-cuapnya) atau polusi udara (karena kotorannya), yang pada gilirannya mungkin akan mengganggu ibadah Bapak Provost tersebut. Atau juga, misalnya kami memiliki usaha bengkel motor balap yang setiap hari dipenuhi 5 sampai 10 motor balap, yang pastinya memerlukan penyetelan mesin.

Mungkin ini hanya masalah sepele saja. Tapi yang perlu digarisbawahi adalah pernyataannya yang setengah mengancam rakyat kecil yang semestinya dilindungi olehnya. Terlebih apa yang dilakukannya, itu sama saja dengan merampas hak orang lain, yaitu kami atau mungkin Anda sekalian yang sama-sama rakyat kecil.

Hingga detik ini, orang tua saya belum merespon bunyi secarik kertas tersebut. Masih dibiarkannya tergeletak diatas meja kerjanya, mungkin sambil menunggu kira-kira ada kiriman atau teror apa lagi.

Kami tidak sedang berupaya mencari keadilan, hanya mengungkapkan apa yang kami rasakan sebagai rakyat kecil saja, yang semestinya diberikan perlindungan oleh TNI (Bapak Provost) sebagaimana Citra TNI yang tergambar melalui 8 Wajib TNI, diantaranya bersikap ramah terhadap rakyat, bersikap sopan santun terhadap rakyat, senantiasa menjadi contoh dalam sikap dan kesederhanaannya, tidak sekali-kali merugikan rakyat, tidak sekali-kali menakuti dan menyakiti hati rakyat. Kami hanya dapat berdoa, semoga Allah melindungi kami. Amiinnn…(cr)

Fenomena Facebook, Maslahat atau Mudharat

Posted on Updated on

Fenomena facebook sebagai salah satu jejaring sosial yang sangat digandrungi oleh pengguna internet, khususnya di Indonesia semakin nyata. Tolok ukur mudahnya bukan angka-angka statistik jumlah kunjungan pengguna internet di warnet-warnet, kantor, atau rumah yang terfasilitasi koneksi internet. Namun, secara kasat mata, hal tersebut dapat dirasakan dengan meningkatnya jumlah pengguna facebook yang dapat kita cermati melalui banyaknya propaganda iklan-iklan handphone (baca = hp) terbaru yang tampil di media televisi maupun media cetak, yang jumlahnya mungkin mencapai ratusan merk, baik yang dikeluarkan oleh brand-brand hp yang sudah malang melintang di dunia per-hp-an, atau yang dirilis oleh operator seluler, maupun merk-merk hp baru yang masih asing di telinga kita, yang dalam promonya selalu menyertakan fungsi facebook.

Artinya, hal itu menandakan bahwa masyarakat kita memang haus akan teknologi terkini, termasuk facebook beserta turunannya. Terlebih, akses internet menggunakan hp yang didalamnya secara general telah dibundle dengan paket facebook, memiliki keunggulan dalam hal aksesibilitas. User tidak perlu repot-repot duduk manis di depan PC atau laptopnya, tapi cukup menggunakan hp dalam genggaman, pun bahkan sambil menyetir mobil atau bahkan saat mengendarai motor, sementara tangan yang satu memegang stang motor, tangan yang satunya lagi sibuk update status facebook.

Pria wanita, tua muda, besar kecil, di berbagai tempat, baik di kantor, di mall, di lobi hotel, di mobil, di motor, di halte bus, di stasiun kereta, di tempat tidur, di toilet, semua telah kecanduan facebook, sehingga asyik ber-facebook ria setiap saat. Budaya latah, salah satunya terhadap facebook, kian mengental dalam keseharian kehidupan masyarakat kita. Bisa dibilang ketinggalan jaman jika masih ada yang tidak ber-facebook ria. Makanya, masyarakat kita dikenal sebagai masyarakat yang memiliki potensi pasar yang tinggi daya serapnya, sehingga membuat produsen apa pun itu berlomba-lomba memasarkan produknya ke hadapan masyarakat kita. Ketika satu kelompok masyarakat tersentuh suatu produk, maka secara otomatis pula biasanya pola penyebaran informasi melalui mouth to mouth atau getuk tular akan berdampak menyebarnya produk tersebut laksana hukum alam, air mengalir mencari lokasi yang lebih rendah tanpa bisa dibatasi.

Selintas terpikir, apakah facebook yang sengaja menggandeng merk-merk hp tersebut untuk membantu memasarkan jejaring sosial buatan Mark Zuckerberg, atau kah justru sebaliknya, merk-merk hp tersebutlah yang mendompleng kesuksesan facebook? Yang pasti, telah terjadi simbiosis mutualisme yang diakibatkan kemajuan teknologi informasi yang memang tidak bisa dibendung kehadirannya.

Menilik kasus-kasus yang terjadi belakangan ini, yang diakibatkan oleh pemanfaatan (maslahat) atau penyalahgunaan (mudharat) facebook, timbul berbagai pandangan-pandangan di masyarakat. Ada yang bilang, facebook bagaimana yang menggunakannya, jika bijak maka kita akan mendapatkan maslahat, namun jika sebaliknya, apalagi untuk tujuan-tujuan yang memang sudah direncanakan untuk tujuan yang tidak baik, maka bersiap-siap saja berurusan dengan hukum seperti yang menimpa Ari Power, seorang remaja putra berusia 18 tahun yang berkenalan via facebook dan kemudian melakukan hubungan percintaan dengan seorang remaja putri kenalannya, Marietta Nova Triani yang berusia 14 tahun.

Dampak yang diakibatkan dari perbuatannya tersebut, Ari Power dapat dijerat dengan pasal 332 KUHP tentang membawa lari anak di bawah umur atau melalui Pasal 82 UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. Belum lagi kasus-kasus lainnya, seperti prostitusi online yang disinyalir juga memanfaatkan facebook. Atau, yang terakhir yaitu seorang remaja putri bernama Stefani Abelina Tiur Napitupulu berusia 15 tahun yang ditengarai menghilang selama 5 hari untuk menyambangi teman lelaki yang dikenalnya via facebook. Abel, sapaan remaja itu, yang berdomisili di Surabaya menyambangi teman lelaki kenalannya yang berdomisili di Jakarta. Hal tersebut merupakan kali kedua Abel menghilang, hanya gara-gara salah memanfaatkan facebook.

Selain kasus-kasus yang dapat berakibat pidana, facebook juga disinyalir dapat menurunkan produktifitas kerja seseorang dan juga berdampak terhadap menurunnya minat belajar para pelajar atau mahasiswa, karena user facebook termotivasi untuk menambah jumlah teman.

Namun, dibalik kemudharatan facebook, ada pula sisi kemaslahatannya, diantaranya penggalangan dana pada “Koin Keadilan Untuk Prita” yang membernya mencapai 67.945. Masyarakat dapat begitu berempati kepada Prita dengan memberikan bantuan berupa koin, yang akhirnya terkumpul Rp 810 juta, dan bahkan kekuatan facebook pula yang telah melunakkan RS Omni untuk kemudian membuat Prita di vonis bebas PN Tangerang. Lalu, ada juga “Grup Koin Cinta Bilqis” yang membernya mencapai 109.663. Belum lagi dukungan untuk Chanda Hamzah dan Bibit Samad Riyanto dengan member sebanyak 375.430. Belum lagi, cerita tentang bertemunya teman-teman lama zaman sekolah dulu yang mungkin kita sendiri sudah tidak tahu keberadaannya, tetapi tiba-tiba saja sudah meng-add kita untuk minta di approve. Juga melalui facebook yang sedang booming, banyak entrepeneur yang mencoba memanfaatkan keberadaannya untuk dijadikan sebagai sarana berjualan online, dan tidak sedikit cerita sukses yang berhasil meraup rupiah dari bisnisnya tersebut.

Facebook dengan segala fenomenanya tentu tidak dapat begitu saja di blokir oleh Departemen Komunikasi dan Informatika sebagai salah satu domain regulator akses internet di Indonesia. Pertimbangan untuk melakukan pemblokiran situs facebook pastinya akan debatable, istilah yang belakangan sering digunakan oleh para politisi Pansus Century, selain kata “terang benderang”, “sahabat saya ini, bla…bla…”, ataupun “Boss”.

Memang, facebook laksana pisau. Ditangan siapa pisau itu digunakan, akan menentukan hasilnya. Jika pisau digunakan oleh koki atau juru masak, maka kita akan merasakan nikmatnya hidangan dari sang koki. Tetapi sebaliknya, jika pisau itu digunakan oleh preman, maka kepahitan akan mengancam seseorang, baik nyawa atau harta bendanya.

Justru yang menjadi tantangan adalah bagaimana peran pemerintah melalui Depkominfo untuk mensosialisasikan pemanfaatan akses internet, khususnya facebook sebaik dan sebijak mungkin. Sosialisasi tersebut dapat diupayakan melalui peran pemerintah daerah di tingkat kabupaten atau kota, yang kemudian di break down lagi, diantaranya melakukan kerja sama dengan sekolah-sekolah dan juga warnet-warnet tentang bagaimana menggunakan internet dengan baik dan bijak.

Kampanye untuk memfilter penggunaan internet yang menyimpang tidak dapat dilakukan hanya melalui situs Depkominfo saja, tetapi juga melalui selebaran atau flyer yang didistribusikan oleh pemerintah daerah kepada warnet-warnet maupun oleh penyedia akses internet kepada pelanggan internet rumahan.

Facebook telah benar-benar menghipnotis masyarakat kita sebelum Uya Kuya ataupun Romi Rafael si jago hipnotis itu melakukan aksi hipnotisnya. Mudah-mudahan terpikir oleh kita semua, para fans setia facebook, untuk bagaimana memanfaatkan facebook dengan baik dan bijak untuk kemaslahatan umat.(cr)