Sosial Budaya

Gerai Donor Darah Kini Hadir Di Mal Metropolitan Bekasi

Posted on Updated on

Bagi rekan-rekan sekalian, khususnya yang tinggal di area Bekasi, yang telah secara rutin mendonorkan darahnya, baik di PMI Bekasi ataupun di setiap kegiatan donor darah bersama yang digelar oleh PMI Bekasi bekerja sama dengan instansi atau lembaga masyarakat, kini sudah tidak perlu repot atau pusing lagi.

Mengapa demikian? Pasalnya, Palang Merah Indonesia (PMI) bekerja sama dengan PT Metropolitan Land melalui Yayasan Metropolitan Peduli, kini telah membuka gerai donor darah di Mal Metropolitan. Pembukaan gerai tersebut dilakukan secara seremonial yang ditandai dengan peresmian penggunaannya oleh Ketua Umum PMI Jusuf Kalla, pada 7 Oktober 2010 lalu, yang bertempat di Lantai 3 Mal Metropolitan Bekasi, dan turut dihadiri oleh Wakil Walikota Bekasi Rahmat Effendi, dan Direktur Utama PT Metropolitan Land Ir Nanda Widya.

Dengan dibukanya gerai tersebut, maka diharapkan masyarakat tidak lagi bingung dan malah menjadi mudah untuk mendonorkan darahnya, karena adanya fasilitas tersebut. Terlebih jika hal tersebut tersedia di mal, karena biar bagaimanapun, di era modern seperti sekarang, mal telah mengubah life style seseorang atau keluarga dalam hal berekreasi, yang pada dasa warsa sebelumnya dilakukan secara konvensional.

“Menyumbangkan darah, diharapkan dapat menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern,” ujar Ketua Umum PMI yang juga mantan Wapres RI, Jusuf Kalla, saat memberikan sambutan dalam acara tersebut.

Dengan meningkatnya jumlah partisipasi masyarakat untuk melakukan donor darah, tentu akan membuka kesempatan terjadinya peningkatan jumlah kantong darah yang terkumpul oleh PMI.

Sebagai informasi saja, untuk Jakarta dan sekitarnya, tingkat kebutuhan darah yang diperlukan mencapai 1.000 kantong setiap hari. Sedangkan secara nasional, kebutuhan darah mencapai jumlah 4,8 juta kantong darah setiap tahunnya.

Menurut Pak JK, idealnya stok kantong darah yang diperlukan secara nasional adalah 2 persen dari jumlah penduduk, yaitu sekitar 4,8 juta kantong darah. Sementara saat ini, PMI baru dapat mengumpulkan 1,9 juta kantong darah. Sehingga terdapat selisih angka yang sangat jauh, yakni sekitar 3 juta kantong lagi.

Gerai donor darah yang ada di Mal Metropolitan Bekasi merupakan gerai ketujuh yang dibuka setelah sebelumnya dibuka di Senayan City dan Tanah Abang Jakarta, Mal Tunjungan Plaza Surabaya, Mal Mari Plaza dan Universitas Hasanuddin Makassar.

Potensi keterlibatan masyarakat dalam mendonorkan darahnya di gerai-gerai donor darah yang ada di mal, sangatlah besar. Dikatakan Direktur Utama PT Metropolitan Land Ir Nanda Widya, setiap harinya pengunjung Mal Metropolitan tidak kurang dari 20 ribu orang, dan menjadi lebih banyak lagi pada akhir pekan.

Dikatakannya pula, dengan adanya gerai donor darah di mal, maka aktifitas ke mal bukan hanya sekedar untuk kegiatan konsumtif saja, tetapi dapat menjadi aktifitas sosial, dengan berdonor darah, dan secara tidak langsung ikut dalam penyelamatan jiwa seseorang.

Gerai tersebut merupakan bentuk dari Coorporate Sosial Responsibility (CSR) yang dilakukan oleh PT Metropolitan Land, yang tidak lain adalah pengembang properti yang telah mengembangkan proyek perumahan dan komersial di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Mal Metropolitan merupakan salah satu dari proyek komersial tersebut, selain Hotel Horison Bekasi. Beberapa proyek perumahan yang dikembangkan oleh PT Metland diantaranya, Metland Menteng di Cakung Jakarta Timur, Metland Puri di Cipondoh Tangerang, Metland Tambun di Bekasi, Metland Transyogi dan Metland Cileungsi di Timur Cibubur.

Tentu ini merupakan sebuah terobosan baru, dan mendobrak kebiasaan umum yang selama ini berlaku. Tidak hanya gerai handphone, gerai pulsa, gerai sepatu, ataupun gerai pakaian, yang selama ini memang sudah eksis di mal, tapi juga gerai donor darahpun ada di mal. Semoga saja, langkah ini merupakan sebuah terobosan yang efisien dan efektif dilakukan, demi untuk meningkatkan jumlah kantong darah dalam upayanya untuk ikut menyelamatkan jiwa manusia.

DONOR SEKARANG, SETETES DARAH ANDA, NYAWA MEREKA.[cr]

Keong Racun Yang Fenomenal

Posted on Updated on

Bukanlah Keong Racun yang biasa dijumpai di pinggiran got atau ditempat-tempat yang lembab. Ini adalah sebuah kisah Keong Racun yang sedang memulai perjalanan fenomenalnya.

Berbekal narsis, iseng namun kreatif yang merekam aksinya lalu di-upload ke Youtube, dua orang mahasiswi jurusan Hubungan Internasional salah satu kampus swasta di Kota Bandung, tepatnya di Universitas Pasundan (Unpas) angkatan 2008, Sinta (Sinta Nuriansyah) dan Jojo (Jovita Adityasari), telah melambungkan lagu dangdut koplo khas Pantura berjudul Keong Racun, yang membuatnya lantas dijuluki pe-lipsync (lip singer).

“Awalnya sih hanya iseng. Saya dengan Shinta kan sudah berteman sejak dari SMA. Kemudian sekitar satu bulan lalu, saya iseng merekam adegan nyanyi berdua denga Shinta di rumah saya di Cimahi. Suaranya sih suara penyanyi aslinya. Kita hanya lipsync saja,” kata Jojo saat ditemui wartawan di Kampus Unpas Jalan Lengkong Besar (29/7).

Betapa tidak, genre lagu yang sebelumnya hanya dikenal oleh para penggemar musik dangdut koplo khas Pantura, saat ini berkat duet maut Sinta dan Jojo, lagu tersebut tidak hanya diputar di radio-radio saja, tetapi juga menjadi konsumsi pemirsa infotainment serta menjadi headline di beberapa media cetak maupun elektronik.

Kabarnya, hampir di tiap-tiap lampu merah yang ada di Kota Bandung, para musisi jalanan secara bergantian mendendangkan lagu Keong Racun. Begitupun halnya dengan pagelaran hajatan, Keong Racun menjadi satu-satunya lagu yang berulang kali minta dinyanyikan (request-red).

Bahkan, Keong Racun menjadi produk “karya anak negeri” yang prestasinya hampir menyamai kepopularitasan Ariel Peterporn dengan menjadi pembahasan utama di trending topic-nya twitter. Viewer Keong Racun berdurasi 5:14 menit di Youtube hingga saat ini (3/8) telah mencapai 2.204.265 pemirsa dari seluruh penjuru dunia.

Di satu sisi, sang pencipta lagu Keong Racun, Subur Tahroni atau Buy Akur, maupun penyanyi aslinya, Lissa, seharusnya patut bersyukur, karena berkat Sinta dan Jojo-lah Keong Racun melejit bak pesawat ulang-alik, menjadi perhatian sekaligus menjadi familiar tidak saja masyarakat Indonesia, tapi juga masyarakat dunia.

Bahkan kabar terakhir, Keong Racun telah dibeli secara ekslusif hak ciptanya oleh Charlie ST 12, yang berniat akan mengaransemen ulang lagu tersebut menjadi lebih modern. Duet penyanyi Putri Penelope (Putri Lana dan Cinta Penelope) menjadi yang beruntung karena telah disiapkan Charlie untuk membawakan lagu yag telah menjadi hits tersebut.

Buy Akur tentunya akan senang riang gembira mendapat kompensasi atas karyanya. Lalu, dampak apa yang dihasilkan Sinta dan Jojo secara langsung? Paling tidak, orang seantero dunia mengenal siapa mereka berdua. Dalam sekejap, paling tidak mereka telah menjadi seleb dunia maya. Dan bukan dunia entertainment namanya jika tidak memanfaatkan setiap kesempatan yang ada alias aji mumpung. Sinta dan Jojo bahkan sudah ditawari untuk terjun ke dalam dunia entertainment.

Buy Akur sudah, Sinta dan Jojo sudah. Lalu, bagaimana dengan Lissa, penyanyi asli Keong Racun. Kabar simpang siur menyebutkan, jika Lissa akan diakomodir dalam manajemen Charlie ST 12, sementara kabar lainnya mengatakan, jika Charlie tidak ada urusan dengan Lissa, sang pelantun tembang hits tersebut.

Kita tunggu saja kabar fenomenal Keong Racun selanjutnya. Apakah Keong Racun itu akan mengeluarkan kisah-kisah manisnya atau justru sebaliknya, sesuai dengan namanya, ya Keong Racun yang beracun. Kita tunggu saja! [cr]

Video Porno Mirip Ariel, Luna Maya Dan Cut Tari, Korban Eksploitasi Budaya Narsisme Akibat Kemajuan Teknologi

Posted on Updated on

Budaya narsisme yang melanda peradaban manusia belakangan ini, baik yang terdapat dalam kelompok usia ABG, remaja maupun dewasa, ditengarai tidak lepas dari pengaruh kemajuan teknologi. Handphone (HP) dengan segala fiturnya, salah satunya melalui camera built-in, menghadirkan sebuah bukti kian menjamurnya budaya narsisme di tengah-tengah masyarakat dewasa ini.

Segala aktifitas, baik secara personal maupun yang melibatkan kelompok, tentulah sebuah momen yang sangat disayangkan untuk dilalui begitu saja, terlebih dengan kualitas kamera HP yang kian baik saja dari hari ke hari, dan dengan harga yang kian terjangkau pula.

Bak pisau dapur. Kamera HP saat ini, dapat dianalogikan seperti layaknya pisau dapur. Ditangan siapa pisau dapur itu digunakan, maka akan menentukan cerita berikutnya. Sederhana saja, jika pisau dapur tersebut digunakan oleh seorang juru masak (koki), maka akan hadir sebuah santapan lezat di meja makan. Namun, jika pisau dapur tersebut digunakan oleh seorang preman, maka akan hadir sebuah cerita yang bertutur tentang kisah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang preman terhadap seorang korban yang tidak mau menyerahkan harta bendanya.

Jika menilik kasus video porno yang menimpa artis yang diduga mirip Ariel, Luna Maya dan Cut Tari, yang menurut analisa para pakar direkam menggunakan kamera HP, jelas terlihat bahwa budaya narsisme, juga dibawa-bawa ke dalam urusan ranjang melalui porno aksinya.

Menurut seorang psikolog, dua insan yang sedang terlibat dalam asmara ranjang, kecenderungan pemikirannya akan dikalahkan oleh nafsunya. Jika boleh disamakan, akan seperti seorang preman yang sedang dalam pengaruh alkohol.

Penggunaan kamera HP yang tidak bijak dan tanpa dipikir panjang, membuat pemiliknya akan terjebak dalam ekploitasi budaya narsisme, terlebih manakala sedang melakukan urusan yang berkaitan dengan nafsu ranjangnya. Seperti pepatah, bangkai yang ditutup rapat, akan tercium pula baunya. Begitupun dengan video porno mirip Ariel dan Luna Maya maupun mirip Ariel dan Cut Tari, yang beredar di jagad maya, akhirnya bagaikan bangkai yang sudah tidak ditutup rapat-rapat lagi.

Sebuah file yang meski dibungkus rapih dalam sebuah benda atau barangpun, di jaman yang serba canggih seperti sekarang, tetaplah memiliki kerentanan yang cukup tinggi. Apalagi jika file tersebut berisi porno aksi pribadi, bagaikan seseorang yang sedang berjalan pada sebilah bambu melintasi sungai, mampu menyeberang hingga ke ujung titian atau jatuh ke dasar sungai. Dalam kasus tersebut diatas, tentunya pemiliknya seperti sedang bermain-main dengan harga diri, karir dan masa depan.

Meski juga dalam UU tidak disebutkan, jika untuk konsumsi pribadi tidak akan dijerat hukum, namun siapa yang mengira jika konsumsi pribadi tersebut, akhirnya dapat tersebar dan kemudian dinikmati oleh publik. Maka, hukumpun akan memainkan peranannya.

Akhirnya, jika dapat disimpulkan, kemajuan teknologi saat ini jelaslah melahirkan sebuah budaya baru, yaitu budaya narsisme. Pertanyaannya, apakah saat ini kita sedang menjadi budak narsisme, yang membutakan mata kita dalam melakukan aksis narsisme tersebut, yang mungkin saja justru malah dapat menjadi korban dari narsisme kita sendiri. Hanya Anda dan Tuhan Anda yang tahu.(cr)