Sabtu (8/1/2011) menjadi salah satu momentum sejarah olah raga di Indonesia, khususnya pada cabang olah raga yang sangat digandrungi oleh penduduk negeri ini, yaitu sepak bola. Momentum tersebut ditandai dengan digulirkannya Liga Primer Indonesia (LPI) melalui serangkaian acara seremonial pembukaan yang dilangsungkan di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah. Sebagai partai pembuka, tuan rumah Solo FC, yang menjamu Persema Malang, takluk 1-5 melawan tim yang dimotori Irfan Bachdim itu.
Kehadiran LPI yang dimaksudkan sebagai salah satu wadah pembentukan bakal pemain timnas yang berkualitas dengan didasari kemandirian klub dan aroma profesionalitas para insan yang terlibat di dalamnya, jelas menjadi ancaman PSSI dengan ISL-nya. Betapa tidak, kompetisi reguler yang biasanya digelar oleh PSSI, sebagai induk organisasi sepak bola di tanah air, yakni dengan kasta tertingginya, Liga Super Indonesia (LSI) atau Indonesian Super Leageu (ISL), kini memiliki kompetitor.
Hal itulah yang menyebabkan terjadinya konflik antara kubu PSSI dengan pihak LPI yang dikomandani oleh Arifin Panigoro, sang taipan minyak Medco Group. Beberapa kali, dalam pernyataan PSSI yang dikeluarkan langsung melalui Ketua Umumnya Nurdin Halid maupun jajarannya, seperti Nugraha Besoes, menyampaikan bahwa LPI ilegal. Menurutnya, LPI bertentangan dengan UU Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional.
Sementara di kubu lain, Menpora Andi Alfian Mallarangeng, BOPI maupun kalangan anggota DPR RI, justru mendukung keberadaan LPI. Bahkan dengan tegas, Menpora mengatakan bahwa setiap warga negara Republik Indonesia dan merupakan pemain sepak bola yang memiliki kualitas, kompentensi dan kelayakan, berhak untuk mendapatkan kesempatan mewakili Indonesia dalam ajang internasional.
LPI yang dibangun dengan gelontoran dana ratusan miliar oleh Arifin Panigoro, di awal kehadirannya langsung mensubsidi klub peserta LPI dengan jumlah miliaran rupiah. Kontras dengan PSSI, yang bersumber dana dari APBN dan sponsor, namun hanya menggelontorkan dana yang jumlah tidak sebesar yang diterima oleh klub peserta LPI. Alhasil, klub peserta ISL, demi mengejar gengsi dan prestasi, hidup dibawah dana APBD. Seperti diketahui, APBN dan APBD adalah dan yang dikumpulkan dari hasil pajak yang dibayarkan rakyat negeri ini.
Rasa-rasanya, jika mau berpikir bijak, LPI yang mengusung konsep kemandirian klub pesertanya, serta mengedepankan nilai-nilai profesionalitas dan sportifitas, sangat patut untuk didukung, terlebih tidak ada dana APBN maupun APBD yang dilibatkan. Pada gilirannya, sepak bola pun bisa menjadi industri dan bisa menjadi ladang penghasilan bagi para pemain muda negeri ini, dan APBN maupun APBD pun akan dapat dimaksimalkan untuk pembangunan yang sifatnya lebih urgent.
Duo Younghusband hasil naturalisasi Filipina pun menyatakan berminat main di LPI, bahkan kabarnya mereka telah melakukan kesepakatan dengan Jakarta 1928. James dan Phillip Younghusband tampil memukau dalam ajang AFF 2010 lalu, yang melambungkan namanya dalam percaturan sepak bola di kawasan ASEAN.
Terakhir, salah satu bek tangguh dan kapten Arema Indonesia, Pierre Njanka yang asli Kamerun, menyatakan ogah meneruskan sisa laga di ISL, dan justru tertarik mencicipi aroma LPI. Adalah Aceh United yang akan beruntung menggunakan jasa pemain berusia 35 tahun itu. Salah satu yang menyebabkan kepindahannya, yakni belum dibayarnya 5 bulan gaji Njanka saat membela Arema Indonesia.
Sepertinya, reaksi yang keluar dari kubu PSSI selaku federasi sepak bola tertinggi di Indonesia menjadi sebuah bentuk ketakutan Nurdin Halid Cs yang pamornya semakin lama semakin hilang. Di mulai dari kasus korupsi yang menimpa dirinya dan kemudian memaksanya memimpin PSSI dari balik jeruji besi, masalah plesirannya jajaran PSSI untuk menonton Final Piala Dunia Afsel lalu yang menggunakan dana APBN, lalu kisruh masalah ticketing dalam gelaran AFF kemarin, serta yang terakhir pengungkapan IGK Manila, sang Manajer PSSI yang terakhir kali mempersembahkan prestasi bagi PSSI di SEA Games, yang mengatakan bahwa dari balik jeruji besi pun, Nurdin masih terlibat dalam pengaturan hasil pertandingan.
Akankah sepak bola Indonesia akan benar-benar maju dibawah Nurdin Halid Cs? Waktulah yang akan menjawabnya![cr]
untuk persepakbolahan maju kita harus lengserkan nurdin halid