New Honda Jazz Mobil Paling Irit Di Kelas Hatchback
New Honda Jazz membuktikan diri sebagai mobil paling efisien dalam hal konsumsi BBM untuk mobil jenis hatchback. Hal tersebut berdasarkan rilis yang diterbitkan Majalah Otomotif. Sebagai salah satu majalah acuan kendaraan, Majalah Otomotif Edisi 39 merilis hasil komparasi konsumsi BBM kendaraan jenis hatchback AT.
New Honda Jazz yang baru diluncurkan tahun 2007 di negeri asalnya, Jepang, dan langsung menyabet gelar Car of The Year 2007-2008, mulai dipasarkan di Indonesia sejak akhir Juni 2008 oleh PT Honda Prospect Motor (HPM) selaku agen tunggal merek Honda, yang kala itu ditandai dengan peluncuran All New Honda Jazz di Plaza Senayan Jakarta.
New Honda Jazz, sebagai mobil yang dirancang untuk menyasar kaum muda aktif dan dinamis namun tetap nyaman dalam berkendara, telah dilengkapi dengan teknologi dan fitur-fitur terbaru. Membedakan antara Jazz baru dengan generasi sebelumnya saat melesat dengan kecepatan sedang cukuplah sulit. Padahal telah dilakukan banyak perubahan dari sisi eksterior, seperti desain lampu lebih besar dan hampir mendekati pilar A. Perubahan lain, tampak pada gril dan ruang udara di bawah gril yang sangat lebar. Kemudian, kaca kecil di pilar A lebih besar dari sebelumnya.
Begitupun pada bagian belakang. Pintu bagasi berbentuk huruf V dipadu dengan desain lampu belakang tiga dimensi, tentunya menambah manis tampilan. High Mount Lamp memberi sentuhan mewah dan juga meningkatkan keamanan berkendara. Kesan sporty dan stylish terasa kental dengan fender belakang yang dirancang lebar.
Pada New Honda Jazz, ciri khas Jazz sebagai sedan yang bertenaga tapi irit tetap dipertahankan, termasuk karakter mesin i-DSI yang hemat bahan bakar dan bertenaga besar.
Jika kita tengok interior, kaca depan memberikan visibilitas lebih luas. Panel-panel ditempatkan dekat dengan pengendara agar merasa nyaman saat mengemudi. Konsentrasi saat mengemudi terjaga, berkat Paddle Shift seperti F1. Jadi, ketika menaikkan atau menurunkan gigi persneling, tangan tetap berada di roda kemudi.
Mengenai ketahanan, sedan hatchback ini menggunakan rangka G-CON dan struktur ACE TM yang telah lulus uji tabrak dengan standar terketat di dunia. Mobil berbandrol mulai dari Rp 198,5 juta hingga Rp 224 juta ini berhasil meraih 6 bintang dari Japan New Car Assessment yang merupakan rating tertinggi dalam uji coba tabrakan kelas dunia.
Melengkapi keamanannya, All New Honda Jazz telah dilengkapi dengan teknologi pengereman ABS, EBD, dan BA, sabuk pengaman dengan 3 point ELR dan load limiter, serta dual SRS Airbags. Sistem keyless entry, immobilizer Anti-Theft System serta security alarm melengkapi perangkat keamanan pada All New Honda Jazz.
Terdapat 8 warna menarik yang ditawarkan untuk All New Honda Jazz yaitu Alabaster Silver Metallic, Silverstone Metallic, Nighthawk Black Pearl, Brilliant White Pearl, Rallye Red Pearl, Irish Red Pearl, Cerulean Blue Metallic yang merupakan warna baru serta Spearmint Green Metallic yang ditawarkan sebagai special edition.
Berikut ini merupakan list berdasarkan tingkat keefisienan dalam hal konsumsi BBM untuk kendaraan jenis hatchback.[cr]
Dalam Kota (Km per liter)
| 1 | Honda New Jazz 1.500cc |
12,5 |
|
2 |
Nissan March 1.200cc |
12,5 |
|
3 |
Hyundai i20 1.400cc |
12 |
|
4 |
Nissan Livina XR 1.500cc |
12 |
|
5 |
Ford Fiesta 1.600cc |
12 |
|
6 |
Suzuki Swift 1.500cc |
12 |
|
7 |
Mazda2 1.500cc |
11,4 |
|
8 |
Toyota Yaris 1.500cc |
11,3 |
|
9 |
Kia Pride 1.400cc |
10,2 |
|
10 |
Daihatsu Sirion 1.300cc |
10 |
Konstan 100km/jam (Km per liter)
|
1 |
Nissan March 1.200cc |
20,1 |
|
2 |
Honda New Jazz 1.500cc |
19,5 |
|
3 |
Ford Fiesta 1.600cc |
19,2 |
|
4 |
Nissan Livina XR 1.500cc |
19 |
|
5 |
Hyundai i20 1.400cc |
17 |
|
6 |
Kia Pride 1.400cc |
15,3 |
|
7 |
Daihatsu Sirion 1.300cc |
15,2 |
|
8 |
Mazda2 1.500cc |
15 |
|
9 |
Suzuki Swift 1.500cc |
15 |
|
10 |
Toyota Yaris 1.500cc |
15 |
Luar Kota (Km per liter)
|
1 |
Honda New Jazz 1.500cc |
15 |
|
2 |
Ford Fiesta 1.600cc |
15 |
|
3 |
Hyundai i20 1.400cc |
14,9 |
|
4 |
Nissan March 1.200cc |
14,8 |
|
5 |
Nissan Livina XR 1.500cc |
14 |
|
6 |
Mazda2 1.500cc |
13,8 |
|
7 |
Toyota Yaris 1.500cc |
13 |
|
8 |
Kia Pride 1.400cc |
12,9 |
|
9 |
Suzuki Swift 1.500cc |
12,8 |
|
10 |
Daihatsu Sirion 1.300cc |
12 |
Arifin “LPI” Panigoro Bergulir, Nurdin “PSSI” Halid Terkilir
Sabtu (8/1/2011) menjadi salah satu momentum sejarah olah raga di Indonesia, khususnya pada cabang olah raga yang sangat digandrungi oleh penduduk negeri ini, yaitu sepak bola. Momentum tersebut ditandai dengan digulirkannya Liga Primer Indonesia (LPI) melalui serangkaian acara seremonial pembukaan yang dilangsungkan di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah. Sebagai partai pembuka, tuan rumah Solo FC, yang menjamu Persema Malang, takluk 1-5 melawan tim yang dimotori Irfan Bachdim itu.
Kehadiran LPI yang dimaksudkan sebagai salah satu wadah pembentukan bakal pemain timnas yang berkualitas dengan didasari kemandirian klub dan aroma profesionalitas para insan yang terlibat di dalamnya, jelas menjadi ancaman PSSI dengan ISL-nya. Betapa tidak, kompetisi reguler yang biasanya digelar oleh PSSI, sebagai induk organisasi sepak bola di tanah air, yakni dengan kasta tertingginya, Liga Super Indonesia (LSI) atau Indonesian Super Leageu (ISL), kini memiliki kompetitor.
Hal itulah yang menyebabkan terjadinya konflik antara kubu PSSI dengan pihak LPI yang dikomandani oleh Arifin Panigoro, sang taipan minyak Medco Group. Beberapa kali, dalam pernyataan PSSI yang dikeluarkan langsung melalui Ketua Umumnya Nurdin Halid maupun jajarannya, seperti Nugraha Besoes, menyampaikan bahwa LPI ilegal. Menurutnya, LPI bertentangan dengan UU Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional.
Sementara di kubu lain, Menpora Andi Alfian Mallarangeng, BOPI maupun kalangan anggota DPR RI, justru mendukung keberadaan LPI. Bahkan dengan tegas, Menpora mengatakan bahwa setiap warga negara Republik Indonesia dan merupakan pemain sepak bola yang memiliki kualitas, kompentensi dan kelayakan, berhak untuk mendapatkan kesempatan mewakili Indonesia dalam ajang internasional.
LPI yang dibangun dengan gelontoran dana ratusan miliar oleh Arifin Panigoro, di awal kehadirannya langsung mensubsidi klub peserta LPI dengan jumlah miliaran rupiah. Kontras dengan PSSI, yang bersumber dana dari APBN dan sponsor, namun hanya menggelontorkan dana yang jumlah tidak sebesar yang diterima oleh klub peserta LPI. Alhasil, klub peserta ISL, demi mengejar gengsi dan prestasi, hidup dibawah dana APBD. Seperti diketahui, APBN dan APBD adalah dan yang dikumpulkan dari hasil pajak yang dibayarkan rakyat negeri ini.
Rasa-rasanya, jika mau berpikir bijak, LPI yang mengusung konsep kemandirian klub pesertanya, serta mengedepankan nilai-nilai profesionalitas dan sportifitas, sangat patut untuk didukung, terlebih tidak ada dana APBN maupun APBD yang dilibatkan. Pada gilirannya, sepak bola pun bisa menjadi industri dan bisa menjadi ladang penghasilan bagi para pemain muda negeri ini, dan APBN maupun APBD pun akan dapat dimaksimalkan untuk pembangunan yang sifatnya lebih urgent.
Duo Younghusband hasil naturalisasi Filipina pun menyatakan berminat main di LPI, bahkan kabarnya mereka telah melakukan kesepakatan dengan Jakarta 1928. James dan Phillip Younghusband tampil memukau dalam ajang AFF 2010 lalu, yang melambungkan namanya dalam percaturan sepak bola di kawasan ASEAN.
Terakhir, salah satu bek tangguh dan kapten Arema Indonesia, Pierre Njanka yang asli Kamerun, menyatakan ogah meneruskan sisa laga di ISL, dan justru tertarik mencicipi aroma LPI. Adalah Aceh United yang akan beruntung menggunakan jasa pemain berusia 35 tahun itu. Salah satu yang menyebabkan kepindahannya, yakni belum dibayarnya 5 bulan gaji Njanka saat membela Arema Indonesia.
Sepertinya, reaksi yang keluar dari kubu PSSI selaku federasi sepak bola tertinggi di Indonesia menjadi sebuah bentuk ketakutan Nurdin Halid Cs yang pamornya semakin lama semakin hilang. Di mulai dari kasus korupsi yang menimpa dirinya dan kemudian memaksanya memimpin PSSI dari balik jeruji besi, masalah plesirannya jajaran PSSI untuk menonton Final Piala Dunia Afsel lalu yang menggunakan dana APBN, lalu kisruh masalah ticketing dalam gelaran AFF kemarin, serta yang terakhir pengungkapan IGK Manila, sang Manajer PSSI yang terakhir kali mempersembahkan prestasi bagi PSSI di SEA Games, yang mengatakan bahwa dari balik jeruji besi pun, Nurdin masih terlibat dalam pengaturan hasil pertandingan.
Akankah sepak bola Indonesia akan benar-benar maju dibawah Nurdin Halid Cs? Waktulah yang akan menjawabnya![cr]
Lakoni Dua Laga Tandang, Persipasi Hanya Mampu Bawa Pulang Satu Poin
Tim kebanggaan masyarakat (Kota) Bekasi yang saat ini sedang bergelut dalam kompetisi Divisi Utama Liga Ti-Phone, yakni Persipasi Kota Bekasi, atau yang mendapat julukan Laskar Patriot dan Tim Hijau Stabilo, telah melakoni dua laga tandangnya, masing-masing ke markas Persiraja Banda Aceh di Stadion H Dhirmutala, Senin (3/1/2011), dan Jum’at (7/1/2011) kemarin, melawat ke Stadion Kuta Asan, markas PSAP Sigli.
Namun sayangnya, trend positif kala melakukan pertandingan terakhir di tahun 2010 lalu, yang berhasil melumat PS Bengkulu 2-1 di Stadion Patriot, Rabu (15/12/2010) petang WIB, dan kemudian mengimbangi permainan salah satu tim besar ISL kala menjamu Sriwijaya FC dalam laga uji coba, Jum’at (24/12/2010), yang berkesudahan dengan skor 2-2, seperti tidak membekas saat anak-anak Laskar Patriot melakukan dua laga tandang tersebut.
Hasil yang dicapai saat duel dengan Persiraja, tim Hijau Stabilo takluk dihadapan pendukung Stadion H Dhimurtala. Penakluk Persipasi dalam duel tersebut adalah Christian Bekatal, striker asing asal Kamerun yang mencetak gol di menit 36. Hingga laga 90 menit berakhir, kedudukan tidak berubah, untuk keunggulan Laskar Rencong dengan skor 1-0 (1-0).
Sementara, kala melawat ke Stadion Kuta Asan, markas tim PSAP Sigli, anak-anak Laskar Patriot hanya mampu mendulang satu poin setelah hanya bermain imbang 2-2 (0-0). Sempat tertinggal lebih dulu melalui gol striker tuan rumah, Osas Marvelous Ikpefua, yang dicetaknya pada menit 65, membuat anak-anak Laskar Patriot bernafsu mengejar ketinggalan.
Hasilnya, dua gol tercipta bagi Persipasi hanya dalam selang waktu lima menit, masing-masing oleh Roberto Saydee Kwateh di menit 71, setelah masuk menggantikan Arip Kurniawan pada menit 56. Sedangkan, satu gol lainnya di cetak striker yang belakangan menunjukkan ketajamannya, Mansyur, pada menit 75. Sayangnya, di saat injury time, PSAP Sigli berhasil mencetak gol, sehingga menyamakan kedudukan menjadi 2-2, melalui gol yang dicetak Abdul Faisal.
Dari lawatannya ke bumi Serambi Mekah, Nanggroe Aceh Darussalam, Laskar Patriot yang bermain dua laga hanya mampu mendulang satu poin dari potensi enam poin yang bisa dibawa. Pertandingan selanjutnya yang akan dilakoni anak-anak Persipasi, yakni menjamu Persita Tangerang di Stadion Patriot, Rabu (12/1/2011). Semoga saja, kemenangan bisa diraih, mengingat dalam laga kandang, Persipasi selalu meraih hasil maksimal.[cr]
2 Tokoh Muda Paling Kontroversial Negeri Ini
Di tahun 2010 lalu, Indonesia mencatat dua tokoh muda paling kontroversial negeri ini. Kontroversi yang dibuatnya benar-benar mengagetkan dan membelalakkan mata, tidak hanya seluruh penduduk negeri ini, tapi juga dunia.
Generasi muda sebagai generasi penerus suatu bangsa, tentu sangat diharapkan keberadaannya. Untuk dapat melanjutkan tongkat estafet pembangunan pada suatu bangsa, tentu dibutuhkan generasi muda yang memiliki iman, akhlak, moral, jujur, ikhlas, kompetensi, spirit, tegas, mau bekerja keras, rela berkorban, dan seterusnya yang baik-baik pastinya.
Begitupun halnya dengan di Indonesia. Tanah air tercinta, ibu pertiwi, Indonesia Raya, tentunya membutuhkan sosok generasi muda dengan kriteria seperti diatas. Harapan besar, untuk memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia, seperti yang diamanatkan dalam UUD 1945, ada di pundak generasi muda, terlebih setelah para pejuang kemerdekaan berhasil merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.
Tentu kita masih ingat, dalam kurun tahun 2010 lalu, kita tidak pernah luput dijejali oleh media massa, baik tv, radio, koran, internet menyangkut pemberitaan dua tokoh muda terkontroversi negeri ini. Kontroversi yang berbanding 180 derajat dengan harapan dan cita-cita para pejuang kemerdekaan, yang ingin bangsanya menjadi bangsa yang adil, makmur, sejahtera dan dipandang oleh bangsa-bangsa di dunia.
Dua tokoh muda itu, yang pertama adalah Nazril Irham (29) atau yang populer dipanggil Ariel, vokalis grup band asal Bandung, Peterpan, yang sempat mendapat julukan Ariel Peterporn di Twitter melalui aksi video pornonya bersama Luna Maya dan Cut Tari.
Lalu yang kedua, yakni Gayus Halomoan Tambunan (31), seorang PNS golongan III/a di Ditjen Pajak, yang ditaksir memiliki kekayaan tidak kurang dari Rp 75 miliar, hasil dari korupsi dan penggelapan dana pajak masyarakat melalui perannya sebagai markus (makelar kasus).[cr]
Honda CR-V SUV Terlaris Di China
China, negeri Tirai Bambu yang berpenduduk paling banyak didunia, yang menurut data terakhir PBB tahun 2009 berjumlah 1,346 miliar orang, merupakan sebuah pasar yang potensial. Perkembangan negeri Tirai Bambu dalam dua dasa warsa terakhir, telah menjadikan China sebagai salah satu macam ekonomi dunia.
Majunya perekonomian China telah membuat rakyatnya menjadi salah satu target Honda sebagai salah satu produsen mobil terkemuka di dunia. Menurut catatan Honda, mobil jenis SUV adalah salah satu jenis mobil yang digemari di China. Hal tersebut, seperti juga dikatakan CNTV (Chinese National Television) melalui data statistiknya, yang menyebutkan bahwa di negara yang berpenduduk paling banyak di dunia itu, masyarakatnya paling menggemari mobil jenis SUV.
Menurut catatan itu pula, Honda CR-V adalah mobil jenis SUV (Sport Utility Vehicle) terlaris di China. Angka penjualan mobil jenis ini menunjukkan angka yang sangat fantastis, dengan penjualan yang mencapai angka satu juta unit untuk mobil jenis SUV dari periode bulan Januari hingga akhir November 2010 silam.
Total angka penjualan segmen mobil SUV di China dua kali lipat lebih banyak dari pada tahun 2009 yaitu sebanyak 730.000 unit. Market leader dari segmen mobil SUV di China adalah Honda CR-V yang telah terjual sebanyak 102.013 unit pada sembilan bulan pertama di tahun 2010 ini. Honda CR-V dinilai sangat cocok bagi kebutuhan masyarakat China yang mobile dan penuh dengan rutinitas serta aktivitas setiap harinya.
Honda CR-V facelift tersebut baru di launching di China pada tanggal 7 Maret 2010 silam dan dijual dalam dua tipe, yaitu tipe 2.0 L dan 2.4 L. Wakil Manajer Divisi Penjualan Dongfeng Honda, Liu Hong mengatakan, akan lebih gencar dalam menjual SUV andalan Honda tersebut di China, untuk mengejar total angka penjualan 1,5 juta unit di tahun 2011.
Dongfeng Honda selaku Agen Tunggal Pemegang Merek Honda di China telah mentargetkan kapasitas produksi sebanyak 120.000 unit pada tahun 2013 mendatang. Hingga tahun 2010 ini kapasitas produksi Dongfeng Honda adalah 100.000 unit per tahunnya. Dongfeng Honda sendiri sudah beroperasi sejak ahun 2003 dengan kapasitas produksi per tahunnya sebanyak 60.000 unit.
Upah Minimum Kabupaten dan Kota (UMK) di Indonesia
Melansir berita yang dirilis website Pemkot Bekasi dengan judul headline Pemkot Bekasi Tetapkan Upah Minimum Kota Tahun 2011, tentu itu merupakan sebuah kabar gembira diawal tahun kelinci ini.
Disebutkan dalam rilis tersebut, berdasarkan SK Gubernur Jabar Nomor 561/Kep.1564-Bangsos/2010 tanggal 19 Nopember 2010 tentang Upah Minimum Kabupaten/Kota di Jawa Barat Tahun 2011, Upah Minimum Kota (UMK) Bekasi rata-rata naik 8% dibanding tahun sebelumnya.
Kenaikan terbesar diberikan kepada para pekerja yang termasuk ke dalam kelompok atau jenis usaha non sektor, yang naik sebesar 11% dari Rp 1.115.000 yang diterima tahun 2010, menjadi Rp 1.275.000 yang diterima tahun ini.
Sementara untuk para pekerja yang termasuk ke dalam kelompok/jenis usaha I (Logam, Otomotif, Mesin, Bubur Kertas, Minyak Goreng, Kimia (Mayoritas Kimia), Karet, Plastik (bukan alat-alat rumah tangga)) ditetapkan sebesar Rp 1.400.000 atau naik sebesar 8% dari UMK tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1.300.000.
Untuk kelompok/jenis usaha II (Elektronik, Kayu (Bukan kayu lapis), Jasa Perbankan, Garment 100% Eksport (Usaha besar, tenaga kerja 500 orang ke atas), Mie Instan Kemasan (Usaha besar bukan UMKM)) ditetapkan sebesar Rp 1.325.000 atau naik sebesar 5% dari UMK tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1.257.000.
Meski tidak begitu besar jumlah kenaikan yang diterima, namun paling tidak, hal tersebut merupakan salah satu bentuk perhatian dari pemerintah terhadap nasib pekerja melalui perannya sebagai regulator. Pemerintah yang berdiri ditengah-tengah,antara pengusaha dan pekerja diharapkan dapat memberikan hasil win-win solution dalam menangani masalah dunia kerja demi terciptanya iklim berusaha yang sehat, khususnya di Kota Bekasi.
“Sasaran yang kami harapkan melalui sosialisasi ini, yaitu terwujudnya tingkat kesejahteraan pekerja melalui peningkatan upah minimum, serta terciptanya ketenangan bekerja bagi para pekerja, dan ketenangan berusaha bagi para pengusaha,” dikatakan Kepala Disnaker Kota Bekasi Drs Junaedi saat mensosialisasikan UMK Kota Bekasi tahun 2011 dihadapan unsur pengusaha, pekerja/buruh/serikat pekerja/serikat buruh se-Kota Bekasi.
Berikut adalah informasi Upah Minimum Regional (UMR) atau Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) di seluruh Indonesia yang telah dikeluarkan oleh masing-masing Regional atau Kabupaten yang bersangkutan.[cr]
| No | Propinsi | Kabupaten | Sektor | 2011 (Rp.) | 2010 (Rp.) | 2009 (Rp.) |
| 1 | Bali | Non Kabupaten | Non Sektor | 890.000 | 829.316 | 760.000 |
| 2 | Bali | Kabupaten Badung | Non Sektor | 1.221.000 | 1.110.000 | 950.000 |
| 3 | Bali | Kabupaten Bangli | Non Sektor | - | 829.500 | 760.500 |
| 4 | Bali | Kabupaten Buleleng | Non Sektor | - | 830.000 | 765.000 |
| 5 | Bali | Kabupaten Gianyar | Non Sektor | - | 925.000 | 842.500 |
| 6 | Bali | Kabupaten Jembrana | Non Sektor | - | 875.000 | 812.500 |
| 7 | Bali | Kabupaten Karangasem | Non Sektor | - | 875.000 | 815.606 |
| 8 | Bali | Kabupaten Klungkung | Non Sektor | - | 835.800 | 767.000 |
| 9 | Bali | Kabupaten Tabanan | Non Sektor | - | 854.500 | 777.000 |
| 10 | Bali | Kota Denpasar | Non Sektor | - | 1.100.000 | 952.000 |
| 11 | Bangka Belitung | Non Kabupaten | Non Sektor | 1.024.000 | 910.000 | 850.000 |
| 12 | Banten | Non Kabupaten | Non Sektor | 1.000.000 | 955.300 | 917.500 |
| 13 | Banten | Kabupaten Lebak | Non Sektor | - | 959.500 | 918.000 |
| 14 | Banten | Kabupaten Pandeglang | Non Sektor | - | 964.500 | 918.950 |
| 15 | Banten | Kabupaten Tangerang | Non Sektor | 1.243.000 | 1.117.245 | 1.044.500 |
| 16 | Banten | Kota Cilegon | Non Sektor | - | - | 1.099.000 |
| 17 | Banten | Kota Tangerang | Non Sektor | - | - | 1.064.500 |
| 18 | Banten | Kota Serang | Non Sektor | - | 1.050.000 | 1.030.000 |
| 19 | Bengkulu | Non Kabupaten | Non Sektor | 815.000 | - | 727.950 |
| 20 | DI Yogyakarta | Non Kabupaten | Non Sektor | 808.000 | 745.694 | 700.000 |
| 21 | DKI Jakarta | Non Kabupaten | Non Sektor | 1.290.000 | 1.118.009 | 1.069.865 |
| 22 | Gorontalo | Non Kabupaten | Non Sektor | 762.500 | 710.000 | 675.000 |
| 23 | Jambi | Non Kabupaten | Non Sektor | - | 900.000 | 800.000 |
| 24 | Jawa Barat | Non Kabupaten | Non Sektor | - | - | 628.191 |
| 25 | Jawa Barat | Kabupaten Cirebon | Non Sektor | - | 825.000 | 746.000 |
| 26 | Jawa Barat | Kabupaten Garut | Non Sektor | - | 735.000 | 660.000 |
| 27 | Jawa Barat | Kabupaten Indramayu | Non Sektor | - | 854.145 | 769.500 |
| 28 | Jawa Barat | Kabupaten Karawang | Non Sektor | - | 1.111.000 | 1.058.181 |
| 29 | Jawa Barat | Kabupaten Karawang | Tekstil/Garmen | - | 1.117.500 | - |
| 30 | Jawa Barat | Kabupaten Karawang | Lain – Lain | - | 1.136.778 | - |
| 31 | Jawa Barat | Kabupaten Kuningan | Non Sektor | - | 700.000 | 634.500 |
| 32 | Jawa Barat | Kabupaten Majalengka | Non Sektor | - | 720.000 | - |
| 33 | Jawa Barat | Kabupaten Majalengka | Tekstil/Garmen | - | 790.000 | - |
| 34 | Jawa Barat | Kabupaten Majalengka | Lain – Lain | - | 860.000 | - |
| 35 | Jawa Barat | Kabupaten Majalengka | Perdagangan/Jasa | - | 835.000 | - |
| 36 | Jawa Barat | Kabupaten Purwakarta | Non Sektor | - | 890.000 | - |
| 37 | Jawa Barat | Kabupaten Purwakarta | Tekstil/Garmen | - | 1.015.000 | 839.300 |
| 38 | Jawa Barat | Kabupaten Purwakarta | Lain – Lain | - | 1.015.000 | - |
| 39 | Jawa Barat | Kabupaten Subang | Non Sektor | - | 746.400 | 670.000 |
| 40 | Jawa Barat | Kabupaten Subang | Manufaktur | - | 941.400 | - |
| 41 | Jawa Barat | Kabupaten Sukabumi | Non Sektor | - | 671.500 | 630.000 |
| 42 | Jawa Barat | Kabupaten Sukabumi | Tekstil/Garmen | - | - | 632.500 |
| 43 | Jawa Barat | Kabupaten Sumedang | Non Sektor | - | 1.058.978 | 995.000 |
| 44 | Jawa Barat | Kabupaten Tasikmalaya | Non Sektor | - | 775.000 | 700.000 |
| 45 | Jawa Barat | Kota Bandung | Non Sektor | 1.188.435 | 1.118.000 | 1.044.691 |
| 46 | Jawa Barat | Kota Banjar | Non Sektor | - | 689.800 | 633.500 |
| 47 | Jawa Barat | Kota Bekasi | Non Sektor | 1.275.000 | 1.155.000 | 1.089.000 |
| 48 | Jawa Barat | Kota Bekasi | Tekstil/Garmen | 1.325.000 | 1.257.000 | - |
| 49 | Jawa Barat | Kota Bekasi | Otomotif | 1.400.000 | 1.300.000 | - |
| 50 | Jawa Barat | Kota Bogor | Non Sektor | - | 971.200 | 893.412 |
| 51 | Jawa Barat | Kota Cimahi | Non Sektor | - | 1.107.304 | 1.019.000 |
| 52 | Jawa Barat | Kota Cirebon | Non Sektor | - | 840.000 | 765.000 |
| 53 | Jawa Barat | Kota Depok | Non Sektor | - | 1.157.000 | 1.078.000 |
| 54 | Jawa Barat | Kota Sukabumi | Non Sektor | - | 850.000 | 770.000 |
| 55 | Jawa Barat | Kota Tasikmalaya | Non Sektor | - | 780.000 | 705.000 |
| 56 | Jawa Barat | Kabupaten Bandung | Non Sektor | - | 1.060.500 | 1.000.950 |
| 57 | Jawa Barat | Kabupaten Bandung Barat | Non Sektor | - | 1.105.225 | 1.011.064 |
| 58 | Jawa Barat | Kabupaten Bekasi | Non Sektor | - | 1.168.974 | 1.084.140 |
| 59 | Jawa Barat | Kabupaten Bogor | Non Sektor | - | 1.056.914 | 991.714 |
| 60 | Jawa Barat | Kabupaten Ciamis | Non Sektor | - | 699.815 | 636.195 |
| 61 | Jawa Barat | Kabupaten Cianjur | Non Sektor | - | 743.500 | 677.600 |
| 62 | Jawa Tengah | Non Kabupaten | Non Sektor | - | - | - |
| 63 | Jawa Tengah | Kabupaten Banjarnegara | Non Sektor | 730.000 | 662.000 | - |
| 64 | Jawa Tengah | Kabupaten Jepara | Non Sektor | 735.000 | 702.000 | - |
| 65 | Jawa Tengah | Kabupaten Karanganyar | Non Sektor | 801.500 | 761.000 | - |
| 66 | Jawa Tengah | Kabupaten Kebumen | Non Sektor | 727.500 | 700.000 | - |
| 67 | Jawa Tengah | Kabupaten Kendal | Non Sektor | 843.750 | 780.000 | - |
| 68 | Jawa Tengah | Kabupaten Klaten | Non Sektor | 766.022 | 735.000 | - |
| 69 | Jawa Tengah | Kabupaten Kudus | Non Sektor | 840.000 | 775.000 | - |
| 70 | Jawa Tengah | Kabupaten Magelang | Non Sektor | 795.000 | 752.000 | - |
| 71 | Jawa Tengah | Kabupaten Pati | Non Sektor | 769.550 | 733.000 | - |
| 72 | Jawa Tengah | Kabupaten Pekalongan | Non Sektor | 810.000 | 760.000 | - |
| 73 | Jawa Tengah | Kabupaten Pemalang | Non Sektor | 725.000 | 675.000 | - |
| 74 | Jawa Tengah | Kabupaten Banyumas | Non Sektor | 750.000 | 670.000 | - |
| 75 | Jawa Tengah | Kabupaten Purbalingga | Non Sektor | 765.000 | 695.000 | - |
| 76 | Jawa Tengah | Kabupaten Purworejo | Non Sektor | 755.000 | 719.000 | - |
| 77 | Jawa Tengah | Kabupaten Rembang | Non Sektor | 757.600 | 702.000 | - |
| 78 | Jawa Tengah | Kabupaten Semarang | Non Sektor | 880.000 | 824.000 | 838.500 |
| 79 | Jawa Tengah | Kabupaten Sragen | Non Sektor | 760.000 | 724.000 | 687.000 |
| 80 | Jawa Tengah | Kabupaten Sukoharjo | Non Sektor | 790.500 | 769.500 | 710.000 |
| 81 | Jawa Tengah | Kabupaten Tegal | Non Sektor | 725.000 | 687.500 | - |
| 82 | Jawa Tengah | Kabupaten Temanggung | Non Sektor | 779.000 | 709.500 | - |
| 83 | Jawa Tengah | Kabupaten Wonogiri | Non Sektor | 730.000 | 695.000 | 650.000 |
| 84 | Jawa Tengah | Kabupaten Wonosobo | Non Sektor | 775.000 | 715.000 | - |
| 85 | Jawa Tengah | Kabupaten Batang | Non Sektor | 805.000 | 745.000 | - |
| 86 | Jawa Tengah | Kota Magelang | Non Sektor | 795.000 | 745.000 | - |
| 87 | Jawa Tengah | Kota Surakarta | Non Sektor | 826.252 | 785.000 | - |
| 88 | Jawa Tengah | Kota Salatiga | Non Sektor | 843.469 | 803.185 | - |
| 89 | Jawa Tengah | Kota Semarang | Non Sektor | 961.323 | 939.756 | 838.500 |
| 90 | Jawa Tengah | Kota Pekalongan | Non Sektor | 810.000 | 760.000 | - |
| 91 | Jawa Tengah | Kota Tegal | Non Sektor | 735.000 | 700.000 | - |
| 92 | Jawa Tengah | Kabupaten Blora | Non Sektor | 816.200 | 742.000 | - |
| 93 | Jawa Tengah | Kabupaten Boyolali | Non Sektor | 800.500 | 748.000 | 718.500 |
| 94 | Jawa Tengah | Kabupaten Brebes | Non Sektor | 717.000 | 681.000 | 575.000 |
| 95 | Jawa Tengah | Kabupaten Cilacap | Non Sektor | 790.000 | 760.000 | - |
| 96 | Jawa Tengah | Kabupaten Demak | Non Sektor | 847.987 | 813.400 | - |
| 97 | Jawa Tengah | Kabupaten Grobogan | Non Sektor | 735.000 | 687.500 | - |
| 98 | Jawa Timur | Kabupaten Bangkalan | Non Sektor | - | 775.000 | 715.000 |
| 99 | Jawa Timur | Kabupaten Banyuwangi | Non Sektor | - | 824.000 | 744.000 |
| 100 | Jawa Timur | Kabupaten Blitar | Non Sektor | - | 830.000 | 570.000 |
| 101 | Jawa Timur | Kabupaten Bojonegoro | Non Sektor | - | 825.000 | 740.000 |
| 102 | Jawa Timur | Kabupaten Gresik | Non Sektor | - | 1.010.400 | 971.624 |
| 103 | Jawa Timur | Kabupaten Gresik | Perdagangan/Jasa | - | - | - |
| 104 | Jawa Timur | Kabupaten Jember | Non Sektor | - | 830.000 | 770.000 |
| 105 | Jawa Timur | Kabupaten Jombang | Non Sektor | - | 790.000 | 752.500 |
| 106 | Jawa Timur | Kabupaten Kediri | Non Sektor | - | 871.000 | 825.000 |
| 107 | Jawa Timur | Kabupaten Lamongan | Non Sektor | - | 875.000 | 760.000 |
| 108 | Jawa Timur | Kabupaten Lumajang | Non Sektor | - | 688.000 | 655.000 |
| 109 | Jawa Timur | Kabupaten Madiun | Non Sektor | - | 685.000 | 620.000 |
| 110 | Jawa Timur | Kabupaten Magetan | Non Sektor | - | 650.000 | 645.000 |
| 111 | Jawa Timur | Kabupaten Malang | Non Sektor | - | 1.000.005 | 954.500 |
| 112 | Jawa Timur | Kabupaten Mojokerto | Non Sektor | - | 1.009.150 | 971.624 |
| 113 | Jawa Timur | Kabupaten Mojokerto | Lain – Lain | - | - | 971.624 |
| 114 | Jawa Timur | Kabupaten Nganjuk | Non Sektor | - | 650.000 | 625.000 |
| 115 | Jawa Timur | Kabupaten Ngawi | Non Sektor | - | 665.000 | 635.000 |
| 116 | Jawa Timur | Kabupaten Pacitan | Non Sektor | - | 630.000 | - |
| 117 | Jawa Timur | Kabupaten Pamekasan | Non Sektor | - | 900.000 | 750.000 |
| 118 | Jawa Timur | Kabupaten Pasuruan | Non Sektor | - | 1.005.000 | 955.000 |
| 119 | Jawa Timur | Kabupaten Probolinggo | Non Sektor | - | 744.000 | 682.500 |
| 120 | Jawa Timur | Kabupaten Sampang | Non Sektor | - | 690.000 | 645.000 |
| 121 | Jawa Timur | Kabupaten Sidoarjo | Non Sektor | - | 1.005.000 | 955.000 |
| 122 | Jawa Timur | Kabupaten Sumenep | Non Sektor | - | 730.000 | 690.000 |
| 123 | Jawa Timur | Kabupaten Tuban | Non Sektor | - | 870.000 | 798.000 |
| 124 | Jawa Timur | Kota Batu | Non Sektor | - | 989.000 | 879.000 |
| 125 | Jawa Timur | Kota Blitar | Non Sektor | - | 663.000 | - |
| 126 | Jawa Timur | Kota Kediri | Non Sektor | - | 906.000 | 856.000 |
| 127 | Jawa Timur | Kota Madiun | Non Sektor | - | 685.000 | 645.000 |
| 128 | Jawa Timur | Kota Malang | Non Sektor | - | 1.006.263 | 945.373 |
| 129 | Jawa Timur | Kota Mojokerto | Non Sektor | - | 805.000 | 760.000 |
| 130 | Jawa Timur | Kota Pasuruan | Non Sektor | - | 865.000 | 805.000 |
| 131 | Jawa Timur | Kota Probolinggo | Non Sektor | - | 741.000 | 682.500 |
| 132 | Jawa Timur | Kota Surabaya | Non Sektor | 1.115.000 | 1.031.500 | 948.500 |
| 133 | Kalimantan Barat | Non Kabupaten | Non Sektor | 802.500 | 1.024.500 | 705.000 |
| 134 | Kalimantan Selatan | Non Kabupaten | Non Sektor | 1.126.000 | 1.024.500 | 930.000 |
| 135 | Kalimantan Selatan | Non Kabupaten | Pertambangan | - | 1.080.000 | - |
| 136 | Kalimantan Selatan | Non Kabupaten | Makanan/Minuman | - | 1.065.000 | - |
| 137 | Kalimantan Selatan | Non Kabupaten | Keuangan/Asuransi | - | 1.357.000 | - |
| 138 | Kalimantan Selatan | Non Kabupaten | Perdagangan/Jasa | - | 1.185.000 | - |
| 139 | Kalimantan Tengah | Non Kabupaten | Non Sektor | 1.134.580 | 986.590 | 873.089 |
| 140 | Kalimantan Tengah | Non Kabupaten | Pertambangan | - | 1.085.250 | 960.398 |
| 141 | Kalimantan Timur | Non Kabupaten | Non Sektor | - | 1.002.000 | 955.000 |
| 142 | Kepulauan Riau | Non Kabupaten | Non Sektor | 975.000 | 925.000 | 892.000 |
| 143 | Kepulauan Riau | Kota Batam | Non Sektor | - | 1.110.000 | - |
| 144 | Lampung | Non Kabupaten | Non Sektor | - | 767.500 | 691.000 |
| 145 | Lampung | Kabupaten Tulang Bawang | Non Sektor | - | 776.500 | - |
| 146 | Lampung | Kota Bandar Lampung | Makanan/Minuman | - | 776.500 | - |
| 147 | Maluku | Non Kabupaten | Non Sektor | 900.000 | 840.000 | 805.000 |
| 148 | Maluku | Non Kabupaten | Pertambangan | - | 1.225.000 | - |
| 149 | Maluku | Non Kabupaten | Makanan/Minuman | - | 915.000 | - |
| 150 | Maluku | Non Kabupaten | Perminyakan | - | 1.310.000 | - |
| 151 | Maluku | Non Kabupaten | Perdagangan/Jasa | - | 890.000 | - |
| 152 | Maluku Utara | Non Kabupaten | Non Sektor | - | - | - |
| 153 | NAD | Non Kabupaten | Non Sektor | - | 1.300.000 | - |
| 154 | NAD | Kota Banda Aceh | Otomotif | - | - | - |
| 155 | Nusa Tenggara Barat | Non Kabupaten | Non Sektor | - | 730.000 | - |
| 156 | Nusa Tenggara Timur | Non Kabupaten | Non Sektor | 850.000 | 800.000 | 725.000 |
| 157 | Papua | Non Kabupaten | Non Sektor | - | 1.210.000 | 1.180.000 |
| 158 | Papua | Non Kabupaten | Pertambangan | - | 1.328.000 | - |
| 159 | Papua | Non Kabupaten | Perminyakan | - | 1.328.000 | 1.298.000 |
| 160 | Papua | Non Kabupaten | Properti/Real Estat | - | 1.328.000 | - |
| 161 | Riau | Non Kabupaten | Non Sektor | 1.120.000 | 1.016.000 | 901.600 |
| 162 | Sulawesi Barat | Non Kabupaten | Non Sektor | - | - | - |
| 163 | Sulawesi Selatan | Non Kabupaten | Non Sektor | 1.100.000 | 1.000.000 | 905.000 |
| 164 | Sulawesi Tengah | Non Kabupaten | Non Sektor | 827.500 | 777.500 | 720.000 |
| 165 | Sulawesi Tengah | Kota Palu | Non Sektor | - | 785.000 | - |
| 166 | Sulawesi Tenggara | Non Kabupaten | Non Sektor | 930.000 | - | 770.000 |
| 167 | Sulawesi Tenggara | Non Kabupaten | Pertambangan | - | 900.000 | 850.000 |
| 168 | Sulawesi Tenggara | Kota Kendari | Non Sektor | 970.000 | - | - |
| 169 | Sulawesi Tenggara | Kota Kendari | Lain – Lain | - | 1.100.000 | - |
| 170 | Sulawesi Utara | Non Kabupaten | Non Sektor | - | - | 905.500 |
| 171 | Sumatera Barat | Non Kabupaten | Non Sektor | 1.055.000 | - | 880.000 |
| 172 | Sumatera Selatan | Non Kabupaten | Non Sektor | - | 927.825 | 824.730 |
| 173 | Sumatera Selatan | Non Kabupaten | Pertambangan | - | 974.216 | - |
| 174 | Sumatera Selatan | Non Kabupaten | Perdagangan/Jasa | - | 974.216 | - |
| 175 | Sumatera Utara | Non Kabupaten | Non Sektor | 1.035.500 | 965.000 | - |
Terbukti, Sepak Bola Berprestasi Bisa Jadi Industri
Pembicaraan seputar sepak terjang timnas Indonesia dalam kancah AFF Suzuki Cup 2010 nyaris tiada henti. Ya, timnas kali ini, adalah timnas yang tampil berbeda dibanding timnas-timnas periode sebelumnya. Timnas yang tampil garang dan gagah berani, disertai semangat tanpa kenal lelah, dibalut jiwa nasionalisme dan patriotisme, guna menyajikan dahaga pecintanya yang haus prestasi.
Gelaran babak final AFF Suzuki Cup 2010 akhirnya kembali mempertemukan Indonesia kontra Malaysia, setelah masing-masing mengkandaskan lawan-lawannya di babak semifinal, dimana Indonesia mengkandaskan Filipina dengan agregat 2-0, dan Malaysia mengkandaskan Vietnam, juga dengan agregat 2-0.
Khusus penampilan timnas, yang diuntungkan dengan dua kali digelarnya laga semifinal di Stadion GBK, tampak sangat jelas, riuh rendah dan sorak sorai penonton yang memerah memadati GBK, memekik dari awal hingga pertandingan usai, guna memberikan dukungan. Tidak hanya di dalam stadion, diluar stadion pun, antusiasme penonton sangat jelas terlihat.
Bahkan, demi untuk mendapatkan tiket menyaksikan langsung partai semifinal II antara timnas Indonesia versus Filipina, banyak penonton yang terpaksa menginap di areal GBK. Ujung-ujungnya, tiket yang sudah diimpi-impikan saat tertidur setelah tak kuasa menahan lelah mengantri tiket, tak juga didapatnya. Terpaksa, dua hari menginap di areal GBK, hanya dibayar dengan menonton langsung big screen yang memang telah disiapkan panitia sebagai langkah antisipatif. Untung aja ada big screen, kebayang kan kalo enggak ada…
Penampilan “Garuda” yang kian menanjak dari pertandingan ke pertandingan, meletupkan emosi setiap jiwa pemilik nasionalisme. Hal tersebut memunculkan efek domino yang menjalar ke sisi-sisi perputaran uang. Bisa dibayangkan, kaos merah timnas berlogo “Garuda” yang sempat diributkan dengan alasan penggunaannya tidak tepat, banyak diburu oleh pemilik jiwa nasionalisme. Demi tidak ingin dibilang berbeda oleh euforia timnas, pelaku usaha merchandise dan segala atribut berwarna merah timnas pun meraup untung akibat laris manis dagangannya diserbu penonton.
PSSI, sebagai institusi sepak bola tertinggi negeri ini, juga ikut-ikutan memanfaatkan momentum tersebut dengan menaikkan harga tiket jelang babak final. Bukannya turun, atau paling banter tetap seperti sebelumnya, harga tiket justru dinaikkan. Panpel memutuskan harga tiket final kategori 3 menjadi sebesar Rp 75.000, kategori 2 Rp 150.000, kategori 1 Rp 250.000, VIP Timur Rp 350.000, VIP Barat Rp 500.000, dan VVIP senilai Rp 1 juta.
Namun, bak membangunkan macan yang sedang tidur, pemilik jiwa nasionalisme itupun bagaikan banjir bandang Wasior yang tidak bisa bendung, atau wedus gembel merapi yang tak bisa ditangkal, terus dan tetap menyeruak memberikan dukungan bagi timnas kesayangannya. Lebih-lebih, laga final nanti akan mempertemukan tim yang sebelumnya sudah dibantai dengan skor telak 5-1, Malingsia…ehh salah Malaysia.
Perputaran uang pun mengalir juga ke hotel dan penginapan di seputaran GBK, disebabkan occupancy hotel yang meningkat sekitar 40% dari biasanya. Begitupun dengan tempat-tempat makan yang turut diserbu penonton yang datang tidak hanya dari Jakarta dan sekitarnya saja, tapi juga dari luar daerah. Bisa dibayangkan, jika timnas kita bisa memiliki prestasi kelas satu di Asia, sejajar Jepang dan Korea Selatan. Bisa memiliki kompetisi sepak bola seperti di liga-liga Eropa. Lebih-lebih jika bisa menyelenggarakan Piala Dunia seperti yang pernah coba dicita-citakan PSSI.
Dari gambaran singkat diatas, sepak bola berprestasi tentunya akan mengundang penonton (massa). Penonton, terlebih yang memiliki jiwa fanatisme namun tidak buta, tentulah sebuah ceruk pasar yang menguntungkan untuk dilakukan perputaran uang, sekaligus menggerakan perekonomian di sektor riil.
Hal yang tidak dapat kita pungkiri. Jika sudah demikian, sepak bola tentu saja menyimpan segudang potensi untuk menjadi sebuah industri. Selain tentunya, sudah jelas dapat memberikan manfaat menjadi alat pemersatu bangsa. Tinggallah, menjadi PR (pekerjaan rumah) bersama, bagaimana mewujudkan sepak bola berprestasi itu, diantaranya melalui konsistensi pembinaan yang berjenjang dan terarah. Segera dan semoga.[cr]
Selama Tahun 2010, Sudah 38 Anggota Polda Metro Jaya Dipecat
Saya yakin, kita semua pasti menginginkan sosok polisi yang ramah, yang bersahabat, yang tidak membuat orang-orang yang hendak berurusan dengan polisi menjadi apriori atau skeptis, juga yang tidak ada udang di balik batu dalam menangani segala sesuatu tentunya.
Kita pasti akan “deg-deg ser”, tegang, gundah gulana tak menentu, jengkel, mangkel, teriak dalam hati, saat mendengar bunyi sempritan Pak Polisi melalui “peluit nan ajaib”-nya atau “tongkat merah sakti”-nya, yang membuat kita mengerem laju kendaraan ketika kita berkendara di sebuah perempatan misalnya. Dalam hati sambil berpikir, “Waduh, apes deh, mesti alasan apa nih!”
Hal-hal seperti itu tentu menjadi momok bagi para pengguna jalan yang kerap mendapat tilang Pak Polisi, utamanya saat melintas di kawasan jalan protokol. Masih mending, jika kita ditilang memang akibat kesalahan yang kita lakukan, seperti misal, berkendara motor tapi tidak menggunakan helm, tidak membawa surat-surat kendaraan atau melanggar lampu merah.
Yang menyesakkan tentunya, jika kita ditilang karena kesalahan yang dibuat-buat, mengada-ada, atau menjebak, seperti contoh kasus, adanya rambu lalu lintas yang tidak membolehkan untuk belok kiri langsung, namun karena rambu itu tidak terlihat akibat terhalang pohon disertai faktor kebiasaan belok kiri boleh langsung, sementara dibelokan tersebut telah menanti Pak Polisi dengan peluit nan ajaib dan tongkat merah saktinya, alhasil kita pun terjebak. Selanjutnya, proses tilang dan negosiasi pun terjadi.
Itu hanya contoh kecil kasus yang kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari, saat polisi dan masyarakatnya berinteraksi di jalan raya. Belum lagi, sejumlah kasus-kasus besar yang tak jelas rimbanya. Hingga terkadang muncul opini di tengah-tengah masyarakat, “Ayam dicuri, biaya pengusutannya malah bisa hilang kambing”. Sedemikian apriorinya mayoritas masyarakat kita ketika berurusan dengan aparat keamanan, seperti Pak Polisi ini, yang jika mengacu kepada slogannya, “Pelindung, Pengayom dan Pelayan Masyarakat”, justru sudah semestinya melindungi, mengayomi dan melayani. Namun faktanya, masih terjadi sebaliknya.
Seperti juga disampaikan anggota Komisi III DPR RI Ahmad Kurdi Moekri yang mengaku prihatin dengan kondisi Kepolisian. Dalam statementnya yang dirilis okezone.com (23/3/2010), Ahmad Kurdi berujar, ”Itu artinya, reformasi yang sudah 12 tahun berjalan, belum membuahkan hasil. Baru sebatas slogan-slogan saja”, katanya.
Kabar terbaru yang dilansir detiknews.com (21/12/2010), selama tahun 2010 ini, yaitu sejak Januari hingga Desember ini, Polda Metro Jaya telah memecat sebanyak 38 anggotanya. Mayoritas yang dipecat, disebabkan karena desersi atau meninggalkan tugas selama lebih dari 3 bulan akibat melakukan tindak pidana.
Dari jumlah itu, 23 anggota dipecat akibat desersi, 8 anggota tersangkut kasus narkotika, sementara 7 lainnya melakukan tindak pidana seperti pencurian, perampokan, penadah, penelantaran istri dan KDRT, serta penipuan. Anggota yang dipecat berpangkat mulai Bintara hingga Aipda, yaitu 16 anggota berpangkat Bripda, 9 anggota berpangkat Briptu, 7 anggota berpangkat Brigadir, 5 anggota berpangkat Bripka dan 1 anggota berpangkat Aipda.
Hal tersebut seperti disampaikan Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes (Pol) Baharudin Djafar. Menurutnya, pemecatan merupakan suatu bentuk sanksi atau punishment bagi anggota Polri, sedangkan bagi yang berprestasi akan diberikan reward. Pemecatan adalah sanksi terberat bagi anggota Polri yang melakukan pelanggaran atau tindakan pidana. Dengan pemecatan tersebut, maka secara otomatis hak-hak dan segala atribut yang melekat dalam diri seorang polisi akan dicabut.
Langkah tegas dari pimpinan Polri kepada jajarannya yang “nakal”, tentunya patut diapresiasi oleh kita semua. Hal tersebut untuk menumbuhkankembangkan polisi yang profesional dalam melayani masyarakatnya.[cr]
Sumber foto: sripoku.com
Prestasi Timnas Momentum Kebangkitan Sepak Bola Nasional
Capaian yang diraih oleh tim nasional sepakbola Indonesia hingga detik ini dalam ajang AFF Suzuki Cup 2010, telah membuat jutaan pecinta sepak bola di Indonesia bak sedang terkena sihir oleh aksi-aksi fantastik Firman Utina Cs. Dimana-mana, di seluruh penjuru negeri ini, sedang terkena demam “Garuda di Dadaku”. Sihir dan demam yang kemudian juga menjangkiti para petinggi negeri ini, tidak terkecuali Presiden SBY dan Ibu Ani Yudhoyono.
Dalam ajang AFF Suzuki Cup 2010, Firman Utina Cs telah melakoni 4 kali pertandingan, diantaranya 3 laga di babak penyisihan dan 1 laga di babak semifinal, dan hebatnya semuanya dengan kemenangan. Total 14 gol berhasil dilesakkan para punggawa sepak bola timnas, dengan hanya kebobolan 2 kali. Thailand yang dalam beberapa dekade selalu mendominasi kawasan Asia Tenggara, kali ini pun menjadi korban pembantaian timnas Indonesia dengan skor 2-1. Di pertandingan sebelumnya, Malaysia dilumat 5-1 dan Laos disikat habis dengan skor 6-0.
Kehadiran Christian “El Loco” Gonzales dan Irfan Haarys Bachdim sebagai dua orang pemain naturalisasi yang ada di tubuh timnas Indonesia, menjadi bagian tak terpisahkan dari capaian prestasi yang telah ditorehkan dalam 4 laga di ajang AFF Suzuki Cup tahun ini.
Muka-muka baru yang tampil menghiasi tubuh timnas Indonesia ditambah dengan “doping” dua orang pemain naturalisasi dalam diri El Loco dan Irfan benar-benar membawa perubahan dalam bentuk permainan, baik secara individu maupun kolektifitas. Skill yang dimiliki El Loco yang meski telah berusia 34 tahun namun masih menunjukkan performa gemilang, ditambah Irfan yang tumbuh dan berkembang dalam persepakbolaan Eropa, yaitu di negeri Kincir Angin, Belanda, jelas menularkan hal positif dalam diri wajah-wajah baru timnas.
Kejelian Alfred Riedl, arsitek timnas asal Austria, dalam memilih pemain serta keberaniannya menurunkan muka-muka baru, seperti Oktavianus Maniani, Ahmad Bustomi, Zulkifli Syukur, Mohammad Nasuha, selain masing-masing memang telah dikaruniai dengan bekal skill individu yang mumpuni, juga tidak bisa ditebak bentuk permainannya oleh lawan. Ini jelas menguntungkan bagi timnas.
Dan terbukti, dalam laga terakhir, Kamis (16/12/2010), di hadapan Presiden SBY dan Ibu Ani Yudhoyono beserta tidak kurang dari 80 ribu suporter fanatik yang memadati Stadion GBK, timnas kembali memukul lawannya. Kali ini, Filipina, sebuah tim yang menjelma menjadi salah satu kekuatan sepak bola baru di kawasan Asia Tenggara. Prestasi yang diraihnya berkat naturalisasi yang mereka lakukan terhadap 8 orang pemainnya, yang membuatnya melenggang hingga babak semifinal. Diperkuat 8 orang pemain naturalisasi yang rata-rata muda, berpostur tinggi tegap, dan rata-rata merupakan pemain yang merumput di liga Eropa dan Amerika, timnas mampu menaklukkan Filipina dengan skor 0-1 berkat gol yang dicetak El Loco Gonzales.
Dalam laga, yang meski kenyataannya dimainkan di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), namun yang menjadi tuan rumah dalam babak semifinal leg I tersebut adalah Filipina. Babak semifinal dalam ajang AFF Suzuki Cup tahun ini menggunakan sistem home and away. Semifinal leg I dimainkan di Stadion GBK, begitu pula dengan semifinal leg II, juga dimainkan di Stadion GBK. Dua laga semifinal yang dimainkan di Stadion GBK, akibat Filipina tidak memiliki stadion standar internasional. Hal yang mereka pasrahkan ketimbang dianggap walk out (WO).
Jelas, ini merupakan keuntungan tersendiri bagi timnas kita. Keuntungan memainkan dua laga semifinal dihadapan suporter fanatik yang memang rindu prestasi, serta keuntungan dari sisi pemasukan melalui penjualan tiket yang selalu sold out. Belum lagi keuntungan bagi para penjual merchandise untuk pemenuhan kebutuhan suporter saat menonton langsung, maupun dari sisi naiknya occupancy hotel dan food and beverages di sekitar Stadion GBK yang rata-rata naik 40% dari sebelumnya.
Semoga saja, capaian prestasi tersebut tidak menjadi anti klimaks hingga berakhirnya ajang AFF Suzuki Cup tahun ini dan semoga dapat menjadi momentum bagi kebangkitan sepak bola nasional untuk masa-masa berikutnya.[cr]












